Tips Mengurangi Kecanduan Gadget pada Anak Usia Dini

19 komentar

Assalamualaikum, teman!

Hidup ini rasanya sudah lekat dengan gadget. Benda layar datar yang mempunyai radiasi itu tidak pandang bulu membuat tertarik beragam usia. Mulai dari anak-anak kecil sampai orang tua yang sudah dipanggil kakek nenek, ingin mengetahui canggihnya fungsi gadget. Teman-teman yang sudah jadi orang tua nih, adakah kekhawatiran anak kecanduan gadget?

Meskipun anak belum punya gadget sendiri tapi lingkungan sekitar terlihat sibuk dengan gadget, apakah anak bisa bertahan? Hehe. Bisa saja pertahanannya goyah kan. Sebab, secara tidak langsung, anak sudah terpapar gadget dan itu membuatnya penasaran. 

Dari rasa penasaran itu, bisa berubah menjadi ingin. Ketika sudah menginginkan dan mencoba melihat fitur gadget, anak akan tertarik mengulang-ulang. Lalu, berujung pada kecanduan. Hiks. Berdasarkan pengalaman, aku ingin berbagi cerita dan sebagai pengingat pribadi tentang screen time untuk mengurangi kecanduan pada anak.

Apa itu Gadget?

Padanan kata dari gadget yaitu gawai. Menurut Wikipedia, gawai adalah suatu perangkat yang mempunyai tujuan dan fungsi canggih lebih spesifik daripada teknologi sebelumnya. Gawai bukan hanya telepon seluler saja, laptop, komputer, televisi dan perangkat teknologi layar datar lainnya.

Batasan Screen Time untuk Anak

Screen time atau waktu untuk melihat layar datar gadget menyala pada anak, perlu dibatasi. Orang dewasa saja, jika berlama-lama jadi mudah lelah. Apalagi anak-anak, sebetulnya lelah tapi dikuat-kuatkan karena terlalu menarik. Nah, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mempunyai rekomendasi batasan screen time untuk anak. Seperti apa itu?

1. Usia < 1 Tahun

Screen time tidak direkomendasikan untuk usia ini. Aktivitas fisik dalam bentuk permainan interaktif, lebih disarankan. Semakin banyak, semakin baik.

2. Usia 1-2 Tahun

Tidak dianjurkan screen time dalam bentuk menonton televisi, laptop, komputer, telepon seluler, video dalam usia ini. Namun, masih boleh dalam bentuk video call dengan pendampingan orang tua. Ragam aktivitas fisik, lebih disarankan.

3. Usia 2-3 Tahun

Anak boleh melakukan screen time, tidak lebih dari 1 jam. Semakin sedikit paparan gadget, malah semakin baik. Setidaknya melakukan aktivitas fisik selama 180 menit yang bervariasi. Waktunya tersebar di sepanjang hari.

4. Usia 3-6 Tahun

Aktivitas screen time tidak lebih dari 1 jam. Semakin sedikit screen time, lebih baik.

5. Usia 6-12 Tahun

Screen time sebaiknya tidak lebih dari 90 menit. Wah, ini tantangan tersendiri bagi anak sekolah dasar yang melakukan pembelajaran jarak jauh. Tapi, longgarnya PPKM dan (semoga) semakin menurun angka Covid-19, anak usia sekolah dasar dapat melakukan pembelajaran tatap muka terbatas lebih sering.

Baca juga: Kapan waktu untuk gawai?
 

Pengalaman Anak Kecanduan Gadget

Sebetulnya aku berusaha untuk tidak memegang telepon seluler ketika di dekat anak, saat masih bayi. Sampai pada kondisi yang membuatku dan suami LDR, aku mulai longgar seperti melakukan video call. Semakin anak bertambah umur, pertahanan screen time untuk anak juga goyah. Yaa, kadang aku putar lagu-lagu. Anak tertarik dong, ingin lihat layarnya.

Aku juga sempat melihatkan film kartun anak seperti Nussa Rara. Sebetulnya tujuan awal untuk pengalihan sesaat, tapi dari situ awalnya anak kecanduan. Apalagi mumpung anteng, aku ambil kesempatan. Aku suapin dong. Huhuhu. Aku tahu itu salah, tapi aku sendiri belum bisa menghentikan. Barulah ketika kami bertemu suami, lalu berkunjung ke mertua, anak sedikit terlupa. Tapi tetap belum seutuhnya bisa lepas dari gadget.

Telepon Seluler Rusak

Pernah juga, tiba-tiba kepikiran daripada gangguin aku yang lagi pegang telepon seluler atau laptop, aku berikan anak telepon seluler tanpa kartu. Wow, aku kesambet apa itu ya. Anak usia 2 tahunan aku beri telepon seluler. Ternyata eh ternyata itu bukan solusi dong. 

Aku malah menambah masalah juga. Telepon seluler itu baterainya soak, daya tahannya cuma sebentar beberapa menit. Mudah mati. Begitu mati, merengek minta dicharge. MasyaAllah anak dikaruniai ingatan kuat, jadi selalu tanya, "Baterainya sudah penuh?"

Memangnya apa yang dilihat anakku di telepon seluler rusak itu? Game? Video? YouTube? Bukan. Anakku buka aplikasi Notes, lalu mengetik-ngetik huruf layaknya aku. Selain Notes, juga aplikasi Message dan melakukan hal yang sama. Awalnya aku mengira akan baik-baik saja. Tapi ternyata telepon seluler itu mengalihkan seluruh perhatiannya. Jika dipanggil, tidak segera menoleh. Lebih memilih memandangi telepon seluler itu daripada beraktivitas fisik.

Langkah Mengurangi Intensitas Screen Time

Dari berbagai kejadian itu, aku dan suami bertekad kuat untuk mengurangi pelan-pelan waktu screen time. Kami berdua harus bekerja sama karena kadang saat anak tidak dapat gadget dariku, larinya ke Ayahnya. Begitu juga sebaliknya, kan enggak selesai-selesai dong masalahnya. Maka kami haru sepakat melakukan beberapa langkah berikut:

1. Tega untuk mengurangi screen time secara bertahap

Bagaimana reaksi anak? Tentu saja menangis, meraung, memberontak dan mengelu-elukan, "Hapee, hapee...."
Sedih? Jelas iya? Kenapa memanggil-manggil benda yang baru dikenal itu. Tapi ternyata itu ampuh banget untuk meredakan kecanduan gadget.
Setelah itu apakah langsung lupa? Tentu saja tidak. Di hari yang sama, anak masih terbayang-bayang dan tanya letak telepon seluler. 

2. Beri contoh dan dampingi beraktivitas interaktif

Sudah konsekuensi ketika anak ingin aktif bergerak positif, orang tua juga perlu mencontohkan. Memberi contoh tidak terlalu sering dekat dengan gawai. Bisa saja anak cemburu. Selain itu, perlu mendampingi aktivitas yang butuh kebersamaan. Bisa beri pilihan aktivitas interaktif seperti membacakan buku, bermain permainan tradisional, bermain peran dan sebagainya.

3. Negosiasi kesepakatan waktu 

Semakin bertambah umur, anak semakin mudah diajak interaksi yaa. Nah, salah satu kesepakatan adalah menjelaskan aturan screen time. Misal, anak boleh menonton, selama alarm belum berbunyi. Jika alarm sudah berbunyi, waktu melihat gadget sudah habis.

4. Penuhi tangki cinta anak

Bagaimanapun sikap anak, anak adalah titipan dari Allah. Saatnya orang tua mendampingi memenuhi tangki cinta anak dengan perhatian, waktu dan tenaga. Saat tangki cintanya penuh karena orang tua meluangkan waktu, anak akan belajar memahami aturan penggunaan gadget sesuai kesepakatan.

5. Beri batasan yang boleh diakses

Jika membolehkan waktu screen time pada anak, sebaiknya orang tua memberi batasan yang boleh diakses anak. Misal video yang telah didownload, aplikasi membaca secara daring, kamera dan sebagainya.

6. Konsisten

Tahapan yang membuat goyah pertahanan, biasanya karena rengekan anak ya? Ini aku sih, apalagi kalau tinggal dengan orang tua atau mertua. Bisa panjang urusannya nih. Tapi konsisten ini memang kunci segala sesuatu agar anak tidak terlalu jauh dalam mengakses gadget.

7. Berdoa

Kok berdoa? Kita apa atuh, kalau bukan karena pertolongan dan kehendak Allah. Mohon ampun atas khilaf kita dan meminta petunjuk Allah adanya kejadian ini. Karena Allah adalah pemilik hati anak kita.

8. Kesepakatan dengan Anggota Keluarga

Sedih ya, kalau kita sebagai orang tua sudah memberi batasan tapi personil keluarga di rumah, mengendorkan. Topik screen time, mengurangi kecanduan gadget ini perlu dibahas bersama. Jangan sampai anak melakukan pelarian dan pelampisan gadget dengan lainnya. 

Penutup

Memang tidak asing lagi ya, jika anak tertarik gawai untuk saat ini. Tapi kita sebagai orang tua, sebaiknya memberi panduan jelas dalam screen time, terutama untuk anak usia dini. Orang tua bukan hanya melarang tapi memfasilitasi dengan aturan dan panduan yang tepat. Sebab bisa jadi, anak akan hidup di dunia serba digital nantinya. Semangaat untuk para orang tua yang mengatur screen time anak!

Teman-teman ada pengalaman dalam mengatasi anak yang kecanduan gadget?

April Fatmasari
Assalamualaikum. Saya memiliki ketertarikan dengan kepenulisan, pengasuhan, literasi anak, terutama read aloud (tersertifikasi). Lulusan teknik informatika yang memutuskan menjadi istri dan ibu di rumah. Senang berbagi dan belajar memaknai kehidupan dengan tulisan.

Related Posts

19 komentar

  1. Yak, memang menjadi ortu jaman now ngeri-ngeri sedaappp
    kudu bijak
    kudu asertif, telaten membimbing anak.
    Semangattt buat kita semua.

    BalasHapus
  2. Anakku sudah remaja, SMA dan SMP...kendalanya sekarag, ga bisa main ke tempat teman, ga pergi sekolah jadi ya mabar...ini beneran juga jadi masalah, apalagi kalau sudah enggak kenal waktu. Sekarang sih yang aku lakukan, asalkan PJJ dia sudah selesai, tugas sudah dikerjakan, jadwal les (online) sudah, baru boleh mabar. Di hari sekolah jamnya terbatas, di akhir pekan baru agak longgar

    BalasHapus
  3. Saya juga berusaha nih membatasi sehari 30 menitan aja screen time, saya bagi 2 sesi 15 menitan sekali nonton. sisanya biarpun capek nemenin anak ya harus kekeuh nggak kasih nonton lagi. Bismillah semoga konsisten memenuhi aturan screen time agar nggak berlebihan..

    BalasHapus
  4. Ajak anak untuk melakukan kegiatan lain sehingga ia punya banyak kesibukan sehingga tangki cinta anak penuh dan ia tidak banyak kepikiran untuk melihat layar, setidaknya mulai berkuranglah.

    BalasHapus
  5. Sekarang aku sengaja kalau pulang dari kantor menyisakan baterai hp tinggal 10% biar pas dipakai anak-anak tuh sebentar aja. Hahahahhaa.. Kalau gak diakalin gitu, dipanggil buat mandi aja rasanya mau perang dunia sama bocil.

    BalasHapus
  6. Masalah terbesar saya adalah saya tidak bisa menjadi contoh buat anak saya. Iya melarang anak jangan lama lama.main hp lah saya kerjaan menggunakan hp. Hehehe ...
    Susah bikin anak mengerti dan susah saya cari waktu untuk tidak kerja depan anak

    BalasHapus
  7. Memang harus tegas kasih batasan ya Mba, soalnya kalau engga gitu bakalan terus liat Hp. Ortu perlu mendampingi anak lebih sering biar perhatiannya teralihkan sepertinya.

    BalasHapus
  8. Haduh iya ni, mbak april. Sejak PJJ anak pertama, dua adiknya ikut²an pegang komputer juga akhirnya.

    Kalau gak PJJ mereka bisa seharian gak screentime, eee kalau PJJ berlangsung lagi, beuuuuuuh

    Anyway thankiss ya, mbak april tipsnya

    BalasHapus
  9. Pas banget nih baca ini. Anakku lg jd mau coba main game. Memang harus tega batasi, karena kalau sudah kecanduan ya repot

    BalasHapus
  10. Well noted banget mbaa. Alhamdulillah anakku belum sampai kecanduan tapi mesti waspada bangett kalau kalau dia nanti akan kecanduan kalau dilonggarin. Penting banget emang nyariind ia aktivitas yaa mbaa, biar ngga bingung doi nihh mau ngapaiin emaknya juga main hp huhu

    BalasHapus
  11. Wah kalau anak udah kecanduan gadget itu bisa kayak ngamuk gitu kalo diambil. Mendingan ga usah pakai cara instan gadget deh kalau mau nenangin anak. Kasih gadget sewajarnya aja sesuai umur

    BalasHapus
  12. Wah Hal ini jujur Menjadi tantangan terbesar bagi Kita sebagai ortu ya kak. Trims tips nya kak... Meski berat harus berusaha juga nih

    BalasHapus
  13. Iya, adanya aturan screen time bisa menjadi salah satu cara agar anak nggak kecanduaan gawai ya mbak
    agak susah saat harus melakukan pembelajaran online seperti sekarang ini

    BalasHapus
  14. Aku mengalami problem yang sama nih terkait penggunaan gadget pada anakku, mana dia udah jelang remaja pula. Melakukan pendekatan untuk mengurangi screen timenya sudah harus beda caranya dengan anak yang masih balita atau lebih kecil dari dia.

    BalasHapus
  15. Sebenarnya anak-anak ini daya serap, daya adaptifnya sangat maksimal.
    Sehingga dengan melihat kebiasaan sekitar, mereka bisa langsung ATM, Amati-Tiru-Modifikasi.
    Kalau sudah terlanjur berada di zona nyaman bergadget ria, paling mudah detoksnya adalah diajak beraktivitas fisik keluar rumah.

    **tapi masalahnya, semudah itukah?
    ehhehe...soalnya Emak Bapaknya juga WFH yaa..

    BalasHapus
  16. Bener mbak. Anak-anak itu memang pintar banget. Mereka tahu gimana buka kunci layar, baterai mau habis sampai urusan kuota juga. Saya juga masih kesulitan nih membatasi screen time anak-anak di rumah soalnya

    BalasHapus
  17. Nice tips mba. noted ilmunya bs dipake klu sdh punya anak

    BalasHapus
  18. Saya bersyukur banget anak-anak mulai PTM, Mbak. Karena bisa mengurangi durasi liat gadget dalam sehari. Cuma karena sudah terbiasa selama 1,5 tahun ini terpapar gadget dalam waktu yag lama agak sulit memang menguranginya huhuhu.

    BalasHapus
  19. Subhanallah, lucu si dedek sukak nulis di notes. Padahal hampir semua anak sukanya liat video di galeri, YouTube dsb. Kayaknya ada bakat jadi penulis juga nih.. hehehe

    BalasHapus

Posting Komentar