Mengajarkan Personal Boundaries Anak Sejak Dini

Orang tua memiliki peran dan tanggung jawab dalam mendidik anak. Menyiapkan bekal untuk kehidupan anak kelak. Salah satu hal yang perlu dididik adalah personal boundaries. Menumbuhkan dan membangun personal boundaries pada anak, bukan hal yang instan. 

Jauh sebelum anak beranjak dewasa, diberikan pengertian tentang adanya aturan dan rutinitas. Sejak dini anak mulai dikenalkan tentang hal yang boleh atau tidak boleh dilakukan sesuai dengan nilai dan norma yang ada dalam keluarga atau masyarakat. 

Personal boundaries merupakan batasan yang ditetapkan untuk diri sendiri dalam rangka menjaga kenyamanan, menghormati kebutuhan diri sendiri dengan tetap menghormati orang lain juga. Ketika memiliki personal boundaries yang jelas, anak akan merasa aman. Orang tua perlu aktif mengenalkan anak tentang hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan dirinya atau orang lain.Selain itu, dikenalkan juga hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan orang lain kepada anak. 

mengajarkan personal boundaries anak

Anak sudah mengetahui hal baik dan tidak baik saja belum cukup memiliki personal boundaries yang kuat. Anak perlu dilatih kemandirian dan empati agar semakin memahami dan mengasah personal boundaries tersebut. Dengan kemandirian, anak akan terbiasa melakukan sesuatu yang sesuai dengan nilai dan norma yang diyakini dalam keluarga, serta berani mengambil keputusan. Lalu, sikap empati akan memudahkan anak mengenali hal yang dibutuhkan orang sekitar dan menentukan sikap.


Cara Mengajarkan Personal Boundaries Anak

Mengajarkan personal boundaries pada anak, membutuhkan waktu. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan orang tua untuk menerapkan boundaries atau batasan pada anak, antara lain:

Mempererat bonding dengan anak

Sebelum mulai menetapkan batasan atau aturan pada anak, sebaiknya memastikan jalinan hubungan kedekatan dengan anak, apakah sudah optimal atau belum. Orang tua harus menyediakan waktu berkualitas bersama anak, meskipun sebentar tanpa ada distraksi gangguan. Meluangkan waktu untuk mendengarkan dan validasi perasaan anak. Anak akan merasa dipahami dan aman dengan orang tua 

Membangun komunikasi sesuai usia anak

Membangun komunikasi efektif dan produktif dengan anak akan memudahkannya untuk memahami hal yang disampaikan orang tua. Mengupayakan untuk sejajar dengan anak saat berkomunikasi. Perhatikan juga intonasi bicara yang tenang dan ajak anak untuk dapat mengekspresikan pendapat serta kebutuhannya dengan baik. Sampaikan batasan secara jelas, konkret, dan mudah dipahami sesuai usia anak.

Memberi teladan yang baik

Ketika menginginkan anak memahami batasan dengan jelas, sebaiknya orang tua memberi teladan yang baik juga. Anak akan meminta izin terlebih dahulu jika orang tua terbiasa izin kepada anak. Begitu juga jika menginginkan anak terbiasa dengan kata maaf, tolong, dan terima kasih, sebaiknya orang tua mengucapkan kata tersebut dalam keseharian. Teladan yang baik lebih membekas pada anak dibandingkan kata nasihat saja. 

Menerapkan aturan yang jelas

Dengan menerapkan aturan utama, anak akan belajar memahami batasan dengan jelas sesuai usianya. Sebaiknya memberi penjelasan tentang aturan yang harus dilakukan tersebut. Hindari melarang dan memberi aturan batasan tanpa ada penjelasan.Sebab, hal tersebut menjadikan anak tidak memahami tujuannya dan terkadang membuat anak melonggarkan aturan batasan tersebut.Sebaiknya membuat batasan dengan menyesuaikan usia anak.

Konsisten

Anak yang mempelajari batasan diri, membutuhkan waktu panjang dan pengulangan. Konsisten menjadi hal penting dalam mendidik anak, termasuk batasan diri. Orang tua perlu bersabar mendampingi anak dalam memahami batasan tersebut. Tidak masalah jika anak masih melakukan kesalahan atau melewati batasan yang telah ditetapkan bersama. Sebaiknya tetap konsisten mengingatkan batasan yang telah dibahas dan disepakati bersama anak karena membutuhkan proses.


Jenis Personal Boundaries yang Perlu Diajarkan

Personal boundaries menjadi suatu keterampilan yang perlu diajarkan sejak dini. Ketika memiliki batasan yang sehat, maka anak akan belajar asertif.

mengenal physical boundaries

Anak juga akan terbantu memiliki interaksi yang sehat dengan orang di sekitarnya. Ada beberapa jenis personal boundaries yang perlu diajarkan, antara lain: 

Physical boundaries

Anak dapat memahami batasan pribadinya dan dapat mengungkapkan kenyamanan dengan sentuhan fisiknya. Misalnya saja tentang batasan orang-orang yang boleh memeluk atau mencium anak, sehingga anak dapat mengatakan tidak merasa tidak ingin dipeluk orang lain.

Material boundaries

Anak paham mengenai konsep berbagi dan menghormati kepemilikan. Dengan begitu anak akan mengizinkan orang lain menggunakan barang miliknya. Anak juga akan belajar menghormati jika tidak diizinkan meminjam barang orang lain.

Mental boundaries

Anak belajar tentang batasan mental agar terbentuk sikap mandiri dan percaya diri. Mengajarkan batasan mental beriringan dengan mengajarkan hal baru dan menghormati perbedaan agar tidak kaku menghadapi perbedaan yang dapat menghambat perkembangan diri.

Emotional boundaries

Anak perlu belajar menghargai dan tidak menyalahkan perasaan agar anak mampu mengelola emosi dengan tepat. Misalnya memberi kesempatan anak untuk mengeluarkan emosinya (menangis) dengan tetap mendampingi tanpa memberi label negatif.


Penutup

Dalam membangun personal boundaries anak, sebaiknya dibiasakan sejak dini oleh orang tua. Personal boundaries perlu diajarkan pada anak agar memahami aturan yang sesuai nilai dan norma dalam keluarga serta masyarakat. Selain itu, mengajarkan anak untuk menjaga diri agar anak tetap nyaman, tetapi mampu menghormati orang lain. 

April Fatmasari
Assalamualaikum. Saya seorang ibu rumah tangga yang belajar menjadi blogger, penulis dan Canva designer. Memiliki ketertarikan dengan kepenulisan, pengasuhan, literasi anak, terutama read aloud. Belajar berbagi memaknai kehidupan dengan tulisan. Jika ingin menjalin kerja sama, dapat dihubungi melalui april.safa@gmail.com
Terbaru Lebih lama

Related Posts

Posting Komentar