Antara Ayah dan Ibu

Ayah. Ibu. Panggilan yang menguatkan status kemanusiaan dan kehormatan. Kedua kata yang menggemuruhkan hati sepasang insan dalam menyambut kehadiran cinta mungilnya atas seizin Allah. Masing-masing mempunyai makna dan fungsinya sendiri. Sampai kapan pun, tidak akan pernah sama, namun dapat bekerja sama menyeimbangkan peran.

Ayah, bukan sekedar kata tanpa makna yang muncul dari teriakan sosok-sosok mungil nantinya. Pribadi yang menjadi panutan anak lelaki dan kebanggaan anak gadisnya. Lelaki yang akan dirindukan anak karena raga sering tidak bersua.
Tokoh yang sering disebut Al-qur'an hingga tujuh belas kali dalam dialog pengasuhan. Bahwa ayah adalah pemilik dan pemimpin sekolah pertama bagi anak. Seseorang yang memastikan sekolah berjalan sesuai tujuan dengan nyaman dan tentram. Itu juga mengajarkan anak tentang pertangungjawaban.

Ibu. Tiga kata bermakna penuh kemuliaan yang memiliki kedudukan surga di telapak kaki. Dalam kemuliaannya, mengandung do'a di setiap ucapan. Itu menjadi ujian bagi ibu yang hampir takkan pernah habis perkataan.
Ibu juga berarti kata penegasan sekolah pertama bagi anak. Berlaku untuk wanita yang penuh persiapan menghadirkan rasa aman dan tentram dalam dekapan pertama yang menghangatkan, mengawali pengetahuan anak.

Namun, tidak sedikit calon ayah dan ibu yang disempurnakan kesabarannya menanti keputusan Allah menghadirkan amanah generasi penerus. Syukur kita menjaga titipan kedatangan cinta mungil dengan saling menguatkan peran antara ayah dan ibu. 

Seperti nasehat yang bisa kita renungkan sebagai ayah dan ibu, ibarat burung yang mempunyai dua sayap. Anak membutuhkan keduanya untuk terbang ke langit luas. Kedua sayap itu adalah ayah dan ibu. Berdua untuk terus kompak, bertumbuh, berdo'a dan belajar dari kehidupan keluarga Rasulullah dan para sahabat. Kisah darinya, lahir generasi gemilang karena sosok ayah membersamai ibu dalam mengasuh anak.

Contoh Sultan Murad II dalam mendidik anaknya, Muhammad Al-Fatih. Sebagaimana sikap anak-anak pada umumnya, lincah, banyak tingkah dan pemberani. Ayahnya banyak mengalami kegagalan untuk mencarikan guru yang dapat membuat Muhammad Al-Fatih taat dan rajin belajar. Sampai akhirnya bertemu dengan Syaikh Al-Kurani, guru yang tepat bagi putranya. Dengan kepercayaan pada sang guru, Sultan Murad II mengizinkannya untuk mencambuk anaknya, jika tidak mau menuruti perintah. Beliau menggantungkan cambuk di ruangan sang anak belajar.
Sementara sang ibu, berperan sebagai pendidik pertama dan utama, selalu meyakinkan anaknya menjadi seorang penakluk Konstaninopel. Sejak kanak-kanak, ibunya sering membawa Al Fatih ke teras istana yang menghadap lurus ke arah Konstantinopel dan menanamkan keyakinan untuk dapat menaklukkan benteng tersebut. Hingga sejarah pun mencatatnya menjadi pribadi terbaik di masa itu.

Antara ayah dan ibu merupakan keseimbangan yang sempurna. Dari ayah, anak akan belajar sosok kekuatan maskulinnya. Figur ibu, memainkan peran feminimnya. 

#30dwc #30dwcjilid12 #day10 #squad4 #keluarga


Post a comment

0 Comments