Code of Conduct Ibu Profesional

Yeay, masuk pekan kedua masa orientasi pengurus. Saatnya mengosongkan gelas untuk menampung ilmu yang pastinya bermanfaat. Ada pemberitahuan kalau akan disuguhkan beberapa materi di pekan ini. Untuk materi pembekalan pertama di kelas enrichment pengurus IP Surabaya dan sekitarnya adalah pedoman perilaku bermartabat. Apa itu? Istilah lain dari kode etik, panduan beretika atau Code of Conduct alias CoC yang isinya tentang aturan-aturan bersikap di dalam organisasi atau komunitas. Bayanginnya kurang luwes gitu ya, diatur-atur. Tapi kalau mau diperhalus bisa pakai istilah adab.

Kayak quotenya Ibu Septi Peni Wulandani di file CoC, "Ibu itu salah satu arsitek peradaban. Bagaimana bisa membangun peradaban? Kalau diri kita sendiri masih tuna adab." 

MasyaAllah pengingat banget, apalagi waktu segrup untuk sharing tentang CoC, berasa bayangin dengerin suaranya kayak di video materi matrikulasi. Begitu masuk sesi tanya jawab, langsung ada pertanyaan panjang kali lebar berdasarkan pengalaman beliau selama ini.



Bu Septi langsung jawab kalau CoC memang suatu panduan. Bagi yang tidak ada kepentingan pribadi saat masuk komunitas ini pasti tidak bermasalah. Tapi kalau masuk komunitas karena sebuah kepentingan tertentu pasti akan menolaknya. Maka bedah CoC dengan studi kasus itu penting,  Agar tidak terjadi penolakan. Prinsipnya semua boleh, kecuali yang tidak boleh.

Pinter-pinternya pengurus untuk menyampaikan bahwa yang tidak boleh itu sedikit, maka yang lain boleh. Sesuatu yang mudah jangan dipersulit dengan membuatnya menjadi sangat detil, sehingga terkesan semua tidak boleh. Pengurus wajib punya adab dan akhlak yang benar dan baik, meski tertulis di CoC atau tidak. Kalau ada yang melanggar, juga berperan memberi peringatan tersirat ataupun tersurat.

Ada juga pertanyaan tentang keaktifan suatu anggota dalam RB atau KB. Jawaban Bu Septi jadi bikin bersemangat kalau berapapun yang hadir, semangatnya diusahakan tetap membara. Jangan pernah pikirkan jumlah, beliau saja memulai IP dari 1 orang yaitu sendiri. Ngadain kegiatan sendiri, yang hadir sendirian dan nggak papa. Yang penting memilih komitmen dan konsisten dengan pilihan belajar. Ada tidak ada orang setiap Rabu pasti buka kelas belajar di rumah. Maka jangan pernah mengajak atau menyebar virus, nanti yg muncul hanyalah kecewa dan anti virus. Tebar saja benih kebaikan secara konsisten maka lihatlah tanaman yang tumbuh, kadang di luar kekuasaan kita.

Ada tambahan juga kalau mengikuti sebuah kegiatan dengan diwajibkan itu tidak membuat bahagia. Bagaimana kalau banyak member aktif tapi tidak bahagia. Maka mereka yang bahagia menjalankan aktivitas di komunitas harus menyebarkan aura positif ke semua member. Sehingga mereka akan merasa rugi kalau tidak ikut. Prinsipnya berbagilah kebahagiaan bukan berbagi beban. Bagaimana kalau sedikit yang ikut? Bu Septi sendiri justru lebih menyukai yang sedikit tetapi solid dan berdampak.

Di akhir diskusi, Bu Septi menuturkan wejangan untuk kami. Menjadi pengurus IP itu adalah mengambil sebuah amanah. Dimana pertanggungjawabannya tidak hanya dengan manusia tetapi juga dengan penciptanya. Sejatinya amanah ini bukan untuk siapa-siapa, amanah ini kita ambil untuk kita, yaitu untuk meningkatkan derajat kehidupan kita sebagai manusia yang bermanfaat. 

Jadi mau kita kerjakan dengan sungguh-sungguh atau tidak, itu urusan kita. Dari sanalah orang lain akan bisa melihat dimanakah level kehidupan kita. Tidak ada yg bisa mengubah kecuali diri kita. Ambil peran ini dengan bahagia, berbagilah kebahagiaan,bukan berbagi beban.

Nyess banget, baca penuturan ibu founder Institut Ibu Profesional. Semoga suatu hari bisa berkesempatan untuk langsung bertatap muka dan dan interaksi. Alhamdulillaah, materinya jadi booster semangat diri.

#enrichment #forumgroupdiscussion #openrecruitment #pengurus #codeofconduct

Comments

Popular posts