Remahan Mutiara Iman

Anak sholihku merasa sepi dan kehilangan tadi pagi. Si Ayah harus keluar rumah karena ada keperluan. Mendadak harus mengurus pajak dua kendaraan bermotor sekaligus, qadarallah tanggal berakhirnya pajak berdekatan dan baru ingat.

Dia terlihat sedih. Di hari sebelumnya, ia mendengar bahwa Ayah menjanjikan sesuatu untuk hari ini. Perasaanku juga retak karena dia menagih janji yang diingatnya. Kulihat suami bernegosiasi antar sesama lelaki hingga wajahnya ceria kembali. Aku juga mencoba mengambil hatinya dengan meminta maaf. Mengingat dan menuliskan kejadian itu, membuatku ingin menangis. Allah sungguh berkuasa menciptakan ingatan anak yang luar biasa dan hati anak yang suci serta tulus. Sebagai orang tua jadi merasa banyak dosa dan kesalahan. Ampuni hamba ya Allah.

Usai kejadian itu dan suami pergi, aku sempat mengajaknya bermain-main. Saat merasa bosan, dia mencari tantenya untuk mengajak bermain. Tapi adik ipar sedang work from home di kamarnya. Jadilah jagoanku tidak betah dan keluarlah sikap kreatifnya pada adik iparku. Menangislah dia.

Memang selama masa pandemi Covid-19 ini sangat dihimbau untuk di dalam rumah. Tapi kalau keluar sebentar untuk cari udara waktu pagi di sekitaran rumah mertua di Madiun, relatif sepi. Kuajak keluar rumah sambil menunjukkan ragam suara burung di sepanjang jalan. Suasana itu mengingatkan pada sebuah buku yang pernah kubaca.

MasyaAllah, tabarakallah, semoga Allah melimpahkan pahala jariyah pada Mama Icha penulis buku Setetes Iman untuk Ananda. Buku praktis yang menuliskan seputar fitrah keimanan di usia 0-7 tahun.  Bagaimana cara menumbuhkan dan merawat fitrah tersebut.

"Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun." (QS. Al Isra ayat 44)

Aku: "Nak, itu ramai-ramai suara apa ya?
Anak: "Hm, suara burung."
Aku: "Suaranya bagus ya?"
Anak: "Oiya, bagus suaranya.
Aku: "Iya, suaranya macam-macam. Bagus ya, merdu. Mereka bersuara itu ucapkan tasbih lho. Subhanallu wa bihamdihi."
Anak: "Oh iya iya.


Semacam remahan mutiara iman yang baru aku tanamkan dalam diri anak. Aku masih perlu belajar dan mempraktekkan tentang fitrah terutama fitrah iman. Klasifikasi fitrah ada 8, salah satunya adalah fitrah iman.

Materi kuliah fitrah based education yang disampaikan oleh Ustadz Harry Santosa, fitrah mempunyai banyak makna menurut bermacam ulama dan bersifat positif/suci. Secara umum, fitrah adalah sifat pembawaan sejak lahir. Menurut Ustadz Harry, fitrah ialah kondisi, konstitusi dan karakter yang dipersiapkan untuk menerima agama. Fitrah berkaitan dengan penciptaan dan peradaban. Semua telah ditakdirkan Allah dengan tujuan menjadi khalifah.

"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS. Ar-rum ayat 30)

Menurut Ustadz Adriano Rusfi dalam sebuah kuliah Whatsapp, penting mengisi bejana fitrah iman anak sebelum anak berusia 7 tahun. Penanaman fitrah iman paling utama adalah sejak dalam kandungan. Hanya satu yang akan menumbuhkan fitrah iman penuh cinta yaitu gembirakan anak dengan agama. Ustadz juga menganjurkan supaya banyak mengisahkan ayat-ayat Al-Quran. Harapannya anak terpesona dan terpukau dengan ayat-ayat, kemudahan yang dijanjikan Allah hingga iman tertanam dalam dirinya. Semoga Allah meridhoi. Aamiin.

#inspirasiramadhan
#dirumahaja
#flpsurabaya
#BERSEMADI_HARIKE-5



Comments

Popular posts