Pentingnya Pendidikan Seksualitas Sejak Dini

Pendidikan seksualitas itu apa? Ini pernah aku tulis di postingan sebelumnya. Kenapa kok pendidikan seksualitas itu penting? Karena tujuan mendasar adalah untuk lebih mengenali diri sebagai ciptaan Allah, tentunya. Selain itu, ketika sudah mengenali diri, tentu harapannya agar lebih berusaha menjaga diri. Itu semua tidaklah instan dan serta merta terjadi. Pasti butuh proses, sehingga dibutuhkan pemahaman pendidikan seksualitas sejak dini. Siapa yang paling berperan memberikan pemahaman? Tentu orang tua yang sebaiknya sudah saling terbentuk bonding kuat hingga anak merasa nyaman dan aman.

Berapa rentang usia dini? Seperti yang kita tahu, usia dini adalah 0-7 tahun atau di bawah 7 tahun. Di postingan kali ini akan membahas juga langkah memberikan pemahaman pendidikan seksualitas berdasarkan tahapan usia. Ada berapa tahapan usia? Ada 2 klasifikasi usia dini untuk mengenalkan pendidikan seksualitas, antara lain:

  1. 0-2 tahun. Mengenalkan siapa dirinya. Dengan cara apa? Tahu namanya sendiri. Selain itu, mengenalkan orangtuanya. Hal tak kalah penting juga adalah memberikan asupan ASI ekslusif. 
  2. 3-6 tahun. Mengenalkan perbedaan laki-laki dan perempuan, bahwa ayah adalah lelaki dan ibu adalah perempuan. Mendekatkan bonding ayah dan ibu juga. Mengenalkan silsilah keluarga dan mengenalkan anak tentang lingkungan sekitar. Hal yang penting juga yaitu memberikan penjelasan ke anak, orang yang boleh dan tidak boleh memegang bagian-bagian tubuhnya. 

Ketika memberikan pemahaman tentang pendidikan seksualitas sejak dini, berarti keluarga mempunyai peran penting. Apa tujuannya? Agar anak memiliki pondasi diri. Suasana dalam keluarga juga memberikan dampak secara tidak langsung. Ketika anak merasa tidak nyaman di lingkungan luar, anak masih mempunyai rumah yang aman, nyaman dan penuh kasih sayang. Hal apa saja yang bisa membangun pengertian anak usia dini tentang pendidikan seksualitas?

1. Memberikan panggilan sayang yang menunjukkan jenis kelamin anak.

2. Melihat kemesraan (sewajarnya yang patut dilihat anak) orang tua dalam keluarga. 

Saat melihat orang tua bahagia karena kemesraan, tentu hal itu menjadi model atau contoh anak dalam memperlakukan lawab jenis. Dari situ, anak belajar tentang saling menyayangi. Anak juga belajar melihat orang tua dalam menjalankan peran.

Tema pendidikan seksualitas sejak dini ini menjadi tema kedua yang dibawakan oleh salah satu kelompok dalam kuliah bunda sayang institut ibu profesional di zona 7. Tanggal 9 Maret 2021 kemarin, menjelaskan juga tentang salah satu penanaman pendidikan seksualitas. Apa itu? Memisahkan tempat tidur antar anak dan orang tua. 

Ketika anak sudah terpisah tidur, secara tidak langsung juga mengajarkan tentang privasi. Apa hanya pisah tempat tidur anak dengan orang tua saja? Enggak ya, sebaiknya antar anak juga terpisah tempat tidurnya. Kenapa? Wallahu 'alam, untuk menghindarkan bangkitnya syahwat kalau saat tidur, tak sengaja auratnya tersingkap. Kalau lahan rumah terbatas untuk beda kamar gimana? Pernah dengar dari penjelasan Ummu Balqis, jika jenis kelamin sama, bisa dibedakan tempat tidurnya meski masih satu kamar atau jika memungkinkan, bisa saja beri sekat triplek atau semacamnya. 

Kapan waktu yang tepat untuk memisahkan tempat tidur anak? Dalam hadits riwayat Abu Daud, "Perintahlah anak-anakmu untuk mendirikan shalat ketika mereka telah berumur tujuh tahun, dan pukullah bila enggan mendirikan shalat ketika telah berumur sepuluh tahun dan pisahkanlah tempat tidur mereka."

Sebegitu pentingnya mengajarkan pemahaman pendidikan seksualitas sejak dini, dimulai dari dalam rumah. Menumbuhkan rasa percaya diri dan aman bersama keluarga. Saling memperhatikan adab pergaulan, semoga Allah melindungi keluarga kita dari segala fitnah dan kerusakan dunia. Aamiin. Kalau ada yang sudah pengalaman mengajarkan pendidikan seksualitas ke anak, boleh juga menambahkan yaa.

Post a Comment

0 Comments