Media Sosial dan Kecemasan

Napas terengah, pikiran serba terburu, selayaknya orang yang mengejar ketertinggalan. Kemarin aku mengalaminya, hampir tertinggal challenge bersemadi di hari ke 12. Sebetulnya aku sudah bertekad pada diri untuk tidak mendadak menulis mendekati deadline. Tapi masyaAllah, rasanya ujian keistiqomahan sedang diuji, kemarin. 

Baru separuh menulis sekitar 260-an kata, bermaksud untuk melanjutkan lagi. Qodarallah, ada saja kegiatan yang menjadikan tertunda. Malam tiba, berencana tidur terlebih dulu setelah tarawih tapi nyatanya terbangun karena tangisan anak tepat jam 11.30. Paniknya bukan main. Berusaha menenangkan anak dulu sambil terus berharap semoga bisa menyelesaikan tanpa harus meninggalkan challenge ini. Akhirnya berhasil terselesaikan secara tidak maksimal karena tinggal aku satu-satunya peserta di list yang belum menyetorkan link. Alhamdulillah masih ada kesempatan. 

Kejadian itu baru target duniawi, sangat nampak jika merasa tertinggal. Bagaimana jika target akhirat yang diperintahkan untuk saling berlomba dalam kebaikan? Mengejar tujuan akhir yaitu surga, apakah masih sesemangat seperti itu? Rasanya menampar diri ini yang masih fakir ilmu dan amal. Semoga Allah memberi kesempatan untuk terus berlomba dalam kebaikan meraih ridho-Nya, bukan sekedar tampilan target duniawi saja.

Duniawi yang serba tampak abu-abu saat ini karena begitu banyaknya tampil silih berganti di media sosial. Saat patokannya media sosial tentu nampak sangat absurd jika merasa tertinggal di belakang. Sebetulnya tidak tertinggal tapi merasa seperti ketinggalan gerbong kereta. Padahal lajurnya beda, begitu juga tujuannya. Akhirnya yang terjadi adalah lelah mengejar yang tak pasti. 

Berapa waktu yang dihabiskan dalam sehari saat berinternet terutama untuk sosial media? Mungkinkah terjadi tsunami informasi pada diri sendiri? Bisa jadi. Dari tulisan Teh Novie Ocktaviane menjabarkan ada temuan riset yang rilis pada Januari 2019 oleh Wearesosial Hootsuite. Pengguna media sosial di Indonesia mencapai 150 juta atau sebesar 56% dari total populasi. Jumlah itu naik 20% dari survei sebelumnya. Sementara pengguna media sosial mobile mencapai 130 juta atau sekitar 48% dari populasi. 

Bisa dipastikan, lalu lalang postingan yang beredar di sosial media sedikit menimbulkan kecemasan. Cemas karena merasa tertinggal dari pencapaian si ibu A. Cemas melihat anak si ibu B sudah lebih dulu perkembangannya dari anak sendiri. Cemas melihat postingan ibu C bahagia berlibur dan membandingan diri sendiri yang pergi ke tempat itu-itu saja. Dan sebagainya. Padahal kecemasan itu sebenarnya dari media sosial atau sendiri? 

Kalau ingat materi kelas healing bersama Teh Febrianti Almeera, jangan sampai mempunyai mental korban dari orang lain. Jika melihat postingan orang, sebaiknya juga tidak merasa jadi korban media sosial. Media sosial adalah netral yang menjadi negatif atau cemas adalah pikiran sendiri. Selain itu, perlu dicek lagi ke dalam relung hati paling dalam, apakah ada setitik perasaan dengki saat melihat postingan di media sosial? Naudzubillah.



Teringat tulisan Teh Sofiana Indraswari bahwa sejatinya setiap dari kita tidak pernah bisa sama dalam hal apapun. Tidak perlu terburu dan membandingkan. Tidak ada teori lebih cepat pasti lebih baik selain perihal amalan pada Allah. Jangan sampai, akibat kecemasan dapat merenggut rasa syukur dan sabar. Adanya kecemasan, semoga tidak merenggut niat ikhlas dalam perubahan laju kereta tujuan sendiri. Sebab kereta ternyaman dan terbaik adalah saat mengenali dengan baik yang ditumpangi dengan menggunakan hati serta menghargai diri. 

Setiap dari kita perlu mengenali dan mengikuti fitrah hidup. Saatnya bijak menggunakan media sosial, belajar mengelola perasaan lebih baik lagi. Di akhir bulan ramadhan yang mulia ini adalah waktu yang tepat untuk happy life based on fitrah. Mengumpulkan jiwa positif sebelum melintasi nikmat Allah yang lebih luas lagi. 



#inspirasiramadan
#dirumahaja
#flpsurabaya
#BERSEMADI_HARIKE-13


Post a Comment

0 Comments