Misi Hidup

Tetesan hujan yang mengguyur sore ini cukup membuat tertegun. Bagaimana tidak? Banyak titik-titik air yang menerobos membasahi lantai di beberapa tempat. Hujan sangat deras. Sangat disayangkan untuk sekedar melewatkan hujan begitu saja tanpa berdoa.



Aku tahu bahwa hujan adalah salah satu waktu yang mustajab dalam berdo'a. Jika Allah menghendaki, rapalan harapan-harapan manusia yang dilangitkan akan dikabulkan oleh Allah. Jika hujan turun, tentu jagoanku akan bernyanyi sebuah lagu turun hujan. Gubahan lagu yang pernah kudengar saat mendampingi anak-anak Madrasah Ibtidaiyah.

Tik tik tik
Bunyi hujan di atas genting
Hujannya turun kita berdo'a
Allahumma shoyyiban naafi'an
Semoga hujan ini membawa manfaat

Selain itu, manfaat dari hujan juga sangat banyak. Hujan disebutkan lebih dari satu kali dalam ayat-ayat Al-Qur'an. Pengulangan tersebut menandakan pentingnya hujan untuk diperhatikan. Allah menyebutkan hujan adalah sesuatu yang diberkahi selain itu hujan adalah suatu rahmat yang diturunkan kepada manusia. Tertulis di surat Qaf ayat 9 dan As-Syura ayat 8.

"Kami turunkan dari langit air yang berkah (banyak manfaatnya) lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam." (QS. Qaf: 9)

"Dialah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji." (QS. as-Syura: 28)

Adanya hujan ini jadi mengingatkanku pada perkataan ulama yang sering digaungkan oleh Ustadz Harry Santosa. Deraskan maknamu bukan tinggikan suara. Karena hujanlah yang menumbuhkan bunga-bunga bukan petir dan gurunnya.

Kalimat itu kuingat sebagai penutup kuliah online fitrah based life kemarin. Sesi 1 FBL yang berjudul What is Hayatun Thoyyibah (The Good Life) based on Fitrah. Kehidupan yang baik sesuai fitrah. Baik dalam merancang kehidupan. Bukan sekedar hidup untuk bekerja tapi untuk berperan pada peradaban dengan karya. 

Bagaimana memaknai hidup ini adalah takdir yang selalu ada maksud di balik apapun kondisinya. Jika ada pengalaman yang menyakitkan maka perlu mengganti persepsi pikirannya bahwa itu adalah khazanah kehidupan yang perlu digali tentang maksud Allah menakdirkan seperti itu terjadi.

"Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (QS. Al Baqarah ayat 30)

Jika menadaburi ayat tersebut di dalam tafsir Al Muyyasar dijelaskan sebagai berikut: Wahai Rasulullah, sebutkanlah kepada hamba-hamba, ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Aku akan menciptakan di bumi suatu kaum yang silih berganti untuk memakmurkan bumi.” Kemudian para malaikat mempertanyakan hikmah dari penciptaan kaum tersebut, padahal sebagian mereka akan berbuat kerusakan di bumi dengan berbagai kemaksiatan dan menumpahkan darah tanpa alasan yang benar; jika tujuannya adalah agar mereka menyembah Engkau, maka kami telah senantiasa berzikir dan mengagungkan-Mu serta menyucikan-Mu dari segala kekurangan. Lalu Allah menjawab mereka bahwa Dia mengetahui apa yang tidak diketahui para malaikat tentang tujuan penciptaan kaum ini.

Allah sudah menetapkan manusia menjadi khalifah di muka bumi. Allah lebih mengetahui hikmah dan tujuan besar dalam penciptaan serta penetapan manusia di bumi. Diingatkan kembali juga tentang persaksian di alam ruh bahwa Allah adalah Tuhanku di dalam surat Al A'raf ayat 172 agar diri ini ingat bahwa ada misi hidup yang harus dicari dan dijalankan di bumi ini. 

Ustadz Harry Santosa mengatakan jika keluarga tanpa misi ibarat pesawat lepas landas di udara hanya berputar-putar tanpa tujuan hingga bahan bakar habis dan dan terhempas turun ke daratan. Jika ada suami yang menganggap repot dengan misi keluarga seperti di perusahaan. Padahal lingkup keluarga adalah perusahaan paling mulia di dunia. Hayyatun thoyibah dalam keluarga diciptakan dengan cinta yang bukan sekedar kesenangan saja. Cinta yang sesungguhnya adalah kepastian dan komitmen untuk saling merawat serta menumbuhkan sampai akhir. Tentu saja dibutuhkan misi keluarga yang diawali dari misi hidup pribadi suami istri.

Sumber:

- konsultasisyariah.com
- tafsirweb.com

#inspirasiramadan
#dirumahaja
#flpsurabaya
#BERSEMADI_HARIKE-2






Post a comment

0 Comments