5 Tips Perbaiki Kesalahan Membacakan Nyaring pada Anak Usia Dini

Tentu ada orang tua, termasuk saya, ingin anak memiliki minat membaca. Berharap anak mempunyai wawasan luas melalui membaca. Proses menumbuhkan dan membuat anak minat membaca, tentu tidak instan. Orang tua juga harus banyak mencari tahu dan menambah wawasan ilmu pengasuhan tentang minat baca.

Sekilas Membacakan Nyaring

Saat mencari artikel tentang menumbuhkan minat membaca anak, ternyata saya menemukan link berikut https://id.theasianparent.com/read-aloud. Dari artikel tersebut, dijelaskan bahwa read aloud atau membacakan nyaring bisa menjadi salah satu kegiatan untuk menumbuhkan minat membaca anak. Manfaat dari membacakan nyaring dapat dipetik jika dilakukan sejak anak usia dini. Tapi ternyata tidak semudah itu untuk dapat membacakan nyaring pada anak usia dini. Saya harus mencari tahu dulu dari referensi lain seperti buku tentang membacakan nyaring.

Sempat menjadi pertanyaan besar buat saya karena anak tidak fokus saat dibacakan buku di usianya setelah 6 bulan. Sebabnya karena saya belum paham betul bagaimana membacakan nyaring. Tujuan yang ingin saya dapatkan dari membacakan nyaring masih belum jelas. Jadilah saya tidak konsisten dalam proses membacakan nyaring ke anak. Padahal ketika anak berusia menjelang dua tahun, dia menagih dibukakan buku favoritnya dan kadang bercerita seperti versinya sendiri. Masya Allah, sebenarnya tujuan membacakan nyaring sudah terlihat hasilnya. Tapi saya kurang paham saat itu.

Belajar dari Kesalahan

Rasa penasaran tentang membacakan nyaring, terjawab dengan mengikuti sebuah training of training read aloud. Ibu Roosie Setiawan yang menyampaikan materi read aloud, menjelaskan banyak tentang membacakan nyaring pada anak usia dini. Dari materi dan pengalaman selama ini, saya jadi tahu tentang kesalahan membacakan nyaring. Ada beberapa poin yang saya dapatkan berdasarkan pengalaman dan workshop mengenai kesalahan saat membacakan nyaring. Berikut kesalahan dan tips yang sebaiknya dilakukan:

1. Menyediakan buku tidak sesuai usia

Sebaiknya jenis buku, menyesuaikan tiap tahap usia anak. Pernah saya mencoba memberikan buku bukan jenis boardbook di usia sekitar satu tahun. Hasilnya, si buku menjadi korban keingintahuan anak hingga tersobek-sobek. Hal itu jadi pelajaran berharga bagi saya. 
Dalam kelas Literasi Dini bersama dr. Irnova, dijelaskan bahwa memilih buku untuk anak usia dini, sebaiknya mengawali dengan teks yang sedikit atau tidak ada sama sekali. Buku berima, salah satu buku yang cocok untuk anak usia dini. Secara tidak langsung, anak belajar pengulangan suku kata.

2. Tidak melakukan pra membaca buku

Hal yang sebaiknya dilakukan sebelum membacakan nyaring pada anak usia dini  adalah orang tua melakukan pra membaca. Saya pernah mengalami stag di tengah membaca karena rasa penasaran anak pada kosa kata tertentu. Akhirnya menggunakan kalimat andalan, "Nanti Bunda cari tahu dulu ya."
Pentingnya melakukan pra membaca bagi orang tua agar tahu alur ceritanya. Selain itu untuk menyeleksi buku, apakah layak untuk anak usia dini. Seleksi buku mulai dari alur, ilustrasi dan kosa kata.

3. Beranggapan harus selesai membaca satu buku

Ini salah satu kesalahan yang baru saya ketahui juga saat training of trainer read aloud. Saya pernah merasa gagal di aktivitas membacakan nyaring karena anak lebih tertarik pada ilustrasi. Banyak halaman terlewat dari membaca. Tapi ternyata, menurut Ibu Roosie Setiawan, hal itu juga proses menumbuhkan minat membaca anak, dimulai dari ingin tahu terhadap ilustrasi. Di tahap ini, anak menganggap membaca adalah suatu yang menyenangkan, mungkin tertarik ilustrasi. Sebaiknya tetap lakukan membacakan nyaring minimal 10 menit mencicil buku. Secara tidak langsung, anak mendapat manfaat dengan menabung kosa kata dari cerita yang dibacakan orang tua. 

4. Tidak terjadi diskusi (hanya satu arah)

Kadang saat membacakan nyaring pada anak usia dini, malah lupa tujuan membacanya karena asyik terbawa alur cerita. Padahal salah satu bonus dari membacakan nyaring adalah menguatkan ikatan orang tua dan anak. Ikatan bisa terjalin dengan adanya komunikasi dua arah. Babbling pada bayi juga salah caranya berkomunikasi. Sebaiknya, ajak komunikasi dengan bertanya dan mendengar jawaban anak terkait teks atau ilustrasi buku.

5. Memberi kesimpulan atau nasihat setelah membaca

Memberi nasihat saat mendongeng atau membacakan nyaring pada anak usia dini, bukanlah hal yang tepat. Sebaiknya beri kesempatan anak untuk menyimpulkan sendiri. Tujuannya untuk  menumbuhkan ketrampilan berpikir kritis pada anak. Berpikir kritis adalah salah satu ketrampilan yang dibutuhkan di abad ke-21. Saya teringat pesan itu, saat mengikuti training of trainer read aloud bersama Ibu Roosie Setiawan.

Ketika melakukan kesalahan dalam membacakan nyaring, pasti menjadi pelajaran tersendiri bagi orang tua. Kesalahan apa yang baru tersadar dilakukan, saat membacakan nyaring? Tidak apa, bukan sebagai alasan untuk menyerah. Namun, ada baiknya menurunkan ekspektasi berlebih dari yang dibayangkan, sambil terus mencari info pengasuhan. Insya Allah, pasti ada manfaat yang dipetik ketika rutin membacakan nyaring setiap hari minimal 10 menit. 

Info Situs Pengasuhan

Menjadi orang tua memang harus terus belajar dan rutin mencari informasi yang dibutuhkan. Salah satu situs online untuk menambah wawasan ilmu pengasuhan adalah https://id.theasianparent.com/. Situs ini mempunyai beragam menu yang bisa dipilih. Mulai dari kehamilan, tumbuh kembang, toodler hingga khusus membahas tentang covid-19. 

Artikelnya up to date, informatif dan ada editor pada penulisannya. Insya Allah, artikel yang terbit bisa dipertanggungjawabkan. Selain diakses melalui browser, ternyata ada aplikasinya juga yang bisa diunduh melalui play store. Menarik, paket komplit dalam satu aplikasi. Tinggal menyaring jenis informasi yang paling penting dan dibutuhkan. Mari bersama untuk semangat upgrade diri dan belajar dari kesalahan!


Comments

Popular posts