Semua Anak Adalah Bintang

Setiap manusia pasti punya suatu hal yang membuatnya bersinar. Bersinar di sini dalam arti kekuatan dirinya, baik secara fisik yang unik maupun sifatnya unik. Materi zona 8 bunda sayang, institut ibu profesional ini banyak membuatku belajar tentang menerima keunikan anak. Semua anak adalah bintang, terlahir sebagai manusia pilihan. Orang tua mempunyai amanah untuk menjaga titipan secara fisik maupun mental. Menjaga mental anak agar tidak merasa dibandingkan dengan lainnya. 

Judul ini juga mengingatkanku pada sebuah buku parenting. Aku pernah membaca buku karya Munif Chatib yang berjudul Semua Anak, Bintang. Bukunya tentang menggali kecerdasan serta bakat anak menggunakan multiple intelligences research (MIR). Kita tidak perlu sampai memberi label pada suatu hal yang terlihat sebagai kekurangan anak. Setiap anak mempunyai cahayanya sendiri. Anak akan berbinar seperti bintang, saat melakukan hal yang disukai.

Semua anak adalah bintang

Kalau mau instrospeksi diri, sebagai orang tua, pasti tidak mau juga dibandingkan dengan ibu atau bapak lainnya. Hehe. Sedihlah, rasanya. Hal itu juga berlaku pada anak. 

Boleh sih membandingkan, tapi membanding antara dirinya di masa dulu dengan sekarang. Misal, apa bedanya kakak yang sudah sekolah dengan saat belum sekolah? Lebih pada membandingkan progress diri, bukan membandingkan dengan pribadi lainnya. 

Tinggikan Bukit, Bukan Meratakan Lembah

Semua anak adalah bintang, mempunyai suatu hal yang menjadi keunikan dan keunggulannya. Seperti burung yang menghabiskan hari-harinya sejak menetas untuk belajar teknik terbang, bukan belajar juga tentang berenang. Itulah meninggikan bukit. Betul kan ya? Contoh meratakan lembah seperti apa?

1. Anak belum tentu menyukai salah satu mata pelajaran. 

Contohnya, pelajaran matematika tidak terlalu diminati anak. Anak didorong orang tua untuk jago menguasai bidang itu dengan memberikan tambahan belajar, padahal anak lebih suka ilmu alam. 

2. Anak belum tentu mahir salah satu ketrampilan.

Contohnya, berkomunikasi. Mungkin, anak memang bukan menjadi orator handal tapi lebih pandai berkomunikasi dengan negosiasi secara dekat. Anak bukan dipaksakan untuk tampil oleh orang tua. Bisa stres bahkan trauma mungkin ya, karena anak tidak menikmati.

Sepertinya sering kita dengar certita tentang pembawaan terbang seekor burung, dia akan terus berlatih hingga menjadi ahli. Jika burung diminta berlatih untuk berenang, tentu terasa kepayahan. Begitu juga anak, saat diizinkan mempelajari suatu hal yang membuat antusias, InsyaAllah akan menjadi ahli di bidang yang diminati. Kurang lebih itulah yang dimaksud meninggikan bukit.

Observasi Bintang Anak

Di usia Hizbi menjelang 4 tahun ini, masih mengamati hal-hal yang membuat Hizbi berbinar, lupa waktu dan puas setelah selesai. Ada beberapa aktivitas yang aku tawarkan atau dilakukan atas insiatif sendiri. Sedikit terlihat polanya, hal yang membuatnya antusias hingga di hari kedelapan.

sia seperti Hizbi, perlu banyak mengamati aktivitasnya. Hizbi belum perlu melakukan ragam tes untuk keunggulannya. Tentu menjadi PR besar bagiku sebagai orang tua untuk memfasilitasi aktivitas anak. Sesekali perlu memberikan ragam aktivitas baru agar lebih banyak terlihat jenis minatnya. 

Kesimpulan

Masih perlu diamati dan dilihat lagi ke depannya. Sebagai orang tua tentu harus berlapang dada, menurunkan ekspektasi. Meyakini bahwa semua anak adalah bintang, InsyaAllah akan bersinar sesuai potensinya masing-masing. Tugas kita sebagai orang tua adalah memberikan kesempatan dan ruang belajar yang lebar agar anak eksplorasi diri, dengan tetap memegang prinsip agama. 



April Fatmasari
Assalamualaikum. Saya seorang ibu rumah tangga yang belajar menjadi blogger, penulis dan praktisi read aloud. Memiliki ketertarikan dengan kepenulisan, pengasuhan, literasi anak, terutama read aloud. Belajar berbagi memaknai kehidupan dengan tulisan. Dapat dihubungi di april.safa@gmail.com

Related Posts

Posting Komentar