Seni Membuat Anak Suka Belajar

Situasi pandemi ini sepertinya mengubah situasi kondisi pembelajaran. Rasanya banyak sekali bertebaran judul kulwap atau zoominar tentang Daring Jangan Darting. Hehe. Darting di sini maksudnya adalah darah tinggi. 

Kabarnya, anak-anak juga enggan belajar di rumah karena ternyata ibunya lebih galak daripada guru. Hiks. Semoga aku tak termasuk salah satu dari si ibu. Hehe. 

Judul Seni Membuat Anak Suka Belajar, tentu menarik perhatianku. Di usia anak 4 tahun ini menjadikanku memiliki rencana untuk memberi pengajaran sederhana di rumah. Belajar dan bermain dari worksheet atau lifeskill keseharian. 

bagaimana caranya membuat anak suka belajar?

Dari situ terlihat sedikit ketertarikan anak dalam suatu hal. Terlihat juga hal-hal yang belum membuatnya tertarik untuk eksplorasi. Selain itu, aku bisa merasakan seninya mengajari anak sendiri. Huehe. Kesabaran adalah kunci, meskipun hal itu ternyata tak semudah pengucapannya.

Membuat Anak Suka Belajar

Saat aku mengikuti Al Kindi online pre school, alhamdulillah disuguhkan berbagai pertemuan orang tua dalam bentuk zoominar. Salah satunya tema zoominar yang menarik yaitu membuat anak tertarik dengan belajar. Aku penasaran karena naraumbernya sudah tidak diragukan lagi keilmuannya. 

Teh Melinda Nurimannisa sebagai narasumbernya, menyadarkanku bahwa anak suka belajar itu bukan hal yang instan. Ada tips dan triknya agar anak menyadari bahwa belajar itu hal yang menyenangkan. Apa saja itu?

Antusiasme

Hal pertama diawali dengan antusiasme belajar. Siapa yang harus antusias di sini? Tentulah orang tua, apalagi ibunya. Ibu meskipun di rumah saja, pasti pernah meluangkan waktu untuk belajar kan? Minimal membaca. Nah di situ, saatnya menunjukkan ke anak kalau ibu senang dan antusias dalam belajar. 

Jadi dapat insight baru nih aku. Jadi bukan sekadar menyuruh anak, "Ayo belajar yang rajin!"

Tapi saatnya menunjukkan, "Bunda izin belajar dulu ya. Belajar online dengarkan materinya Teh Melinda tentang suka belajar. Wah ibu jadi dapat banyak ilmu."

Selain itu, menunjukkan antusias dengan ekspresi wajah. Wajah gembira, sumringah, bukan wajah tertekan. Hehe. Sejauh ini, alhamdulillah anak paham. Terkadang ikut duduk di sebelah atau di dekatku untuk ikut mneyimak jika ada kelas zoom.

Kenal elemen dasar manusia

Hal penting kedua adalah mengenali elemen dasar manusia. Apa saja itu? Ada 3 elemen yaitu akal, hati dan raga. Elemen akal, anak perlu tahu mengapa harus belajar. Kemudian dalam elemen raga, perlu dicek juga. Ketika anak tidak bersemangat belajar, apakah raganya kurang terstimulasi.

Supaya akal dan raga dapat tergerak, diawali dari hati. Sentral pendidikan adalah hati. Sebab hati adalah esensi dari manusia. Belajar merupakan proses jiwa. Bisa dengan menceritakan teladan nabi, menceritakan perintah Allah pertama yaitu Iqro, setiap manusia secara fitrah butuh belajar.

Sumber Motivasi Belajar

Lalu, bagaimana supaya anak suka belajar. Kita perlu mencari tahu 2 tipe sumber motivasinya. Motivasi ekstrinsik berasal dari luar, seperti reward, pujian dan sebagainya. Sedangkan motivasi intrinsik dari dalam diri. Anak menikmati dan menyukai proses belajar meskipun tidak ada rewardnya. Motivasi ekternal dapat berpengaruh megatif pada pertumbuhan motivasi instrinsik 

Bagaimana supaya motivasi dalam dirinya bisa tumbuh?

Berikan otonom atau pilihan 

3T: task, time, technique. Bukan hanya menyetir atau mengarahkan? Tapi beri kesempatan diskusi dengan membimbing. Adanya teknik untuk membantuk self motivation

Membangun kompeten

Sebetulnya anak suka diberi kepercayaan mengerjakan sesuatu karena fitrahnya memang belajar. Mereka butuh membuktikan kemampuan menyelesaikan tugas. Merasa kompeten adalah kebutuhan psikologis dan emosional anak. Jika tidak diberi ruang, maka akan berpengaruh ke rasa kepercayaan dirinya. 

Memahami tujuan belajar

Pemahaman tentang tujuan belajar menjadi suatu hal yang penting, walaupun terkesasn teoritis ya. anak bisa dijelaskan tentang mengapa harus belajar, relevansi yang dilakukan sekarang dengan tujuan atau rencana hidup. Anak usia dini dapat diingatkan dengan Allah, Rasul, Nabi, malaikat. Perlu memberi pemahaman bahwa belajar adalah jati diri seorang muslim karena ada dalam firman Allah yaitu iqro (membaca).

Kesimpulan

Zoominar dengan tema Seni Membuat Anak Suka Belajar ini memberikanku insight baru. Aku menyadari bahwa anak menyenangi proses belajar itu bukan hal instan. Kita sebagai orang tua harus memberikan teladan dan memfasilitasi. Perlu membuat proses belajar yang menyenangkan agar anak punya asosiasi bahwa belajar adalah bahagia. Dampaknya bukan hanya untuk hari ini atau semasa sekolah saja, kan? Bagaimana menurut teman teman?


April Fatmasari
Assalamualaikum. Saya seorang ibu rumah tangga yang belajar menjadi blogger, penulis dan praktisi read aloud. Memiliki ketertarikan dengan kepenulisan, pengasuhan, literasi anak, terutama read aloud. Belajar berbagi memaknai kehidupan dengan tulisan. Dapat dihubungi di april.safa@gmail.com

Related Posts

Posting Komentar