Perjalanan pernikahan 10 tahun ini tetap terasa dengan segala lika-likunya. Ada masa yang ringan, ada masa yang perlu lebih banyak belajar sabar, memahami, dan menata ulang diri. Dari perjalanan itu, saya semakin menyadari bahwa membangun rumah tangga bukan hanya tentang menjalani hari demi hari, tetapi tentang terus belajar menata rumah dan diri. Dari situlah ketenangan dan keberkahan pelan-pelan tumbuh, bukan karena keadaan selalu mudah, tetapi karena proses yang dijalani dengan kesadaran.
Di tengah perjalanan itu, saya mengikuti sebuah kajian bersama para pegawai Yayasan Qurrota A’yun Ponorogo, tempat saya mengajar di MisterQu. Kajian yang disampaikan oleh Ustadzah Rochma Yulika, seorang trainer nasional sekaligus konselor parenting dan pernikahan, terasa relevan dengan apa yang sedang saya jalani. Bukan hanya menambah wawasan, tetapi juga menguatkan kembali hal-hal yang sering terlewat dalam keseharian.
Peran Ibu, Ayah, dan Pendidikan dalam Rumah
Salah satu hal yang sangat ditekankan adalah peran ibu dalam mendidik anak. Bahkan doa seorang ibu menjadi bagian penting dalam kehidupan anak. Karena itu, seorang ibu perlu menjaga lisan, membiasakan berkata yang baik, dan menghadirkan doa-doa terbaik untuk anak-anaknya. Kata-kata di rumah bukan hal kecil, karena bisa menjadi doa yang membentuk karakter anak.
Di sisi lain, peran ayah juga sangat penting. Ayah menjadi penopang agar ibu bisa menjalankan peran dengan lebih stabil dan tidak merasa sendiri. Kehadiran dan keterlibatan ayah membantu menjaga keseimbangan dalam keluarga.
Selain itu, saya juga belajar pentingnya waktu berkualitas di rumah (quality time). Di tengah kesibukan sebagai diri sendiri, istri, ibu, maupun pekerjaan, waktu bersama keluarga menjadi sangat berarti. Bukan soal lama waktunya, tetapi tentang kehadiran yang benar-benar hadir.
Melatih Anak Sejak Dini: Ibadah dan Kemandirian
Saya juga semakin dikuatkan tentang pentingnya melatih anak beribadah sejak dini, bukan hanya dengan menyuruh, tetapi dengan mengajak dan memberi contoh langsung dalam kehidupan sehari-hari.
Anak belajar dari apa yang mereka lihat. Karena itu, membiasakan shalat, doa, dan adab sejak kecil menjadi proses penting dalam membentuk karakter mereka. Keteladanan jauh lebih berpengaruh daripada sekadar nasihat.
Hal yang sama juga berlaku dalam membangun kemandirian. Saya mulai belajar mengenalkan nilai entrepreneurship sejak dini, dengan cara sederhana sesuai usia anak. Tujuannya bukan semata soal uang, tetapi tentang tanggung jawab, proses, dan kemandirian berpikir yang akan mereka bawa ke depan.
Menata Diri dengan Kepribadian Islami
Salah satu hal yang paling menguatkan dari kajian tersebut adalah tentang pentingnya membangun kepribadian islami. Saya mencoba merenungkan, sejauh mana hal ini sudah saya usahakan dalam kehidupan sehari-hari.
1. Salimul Aqidah (aqidah yang lurus)
Saya belajar untuk benar-benar menggantungkan harapan kepada Allah. Dalam refleksi pernikahan ini, saya menyadari bahwa banyak hal terasa berat ketika saya terlalu mengandalkan diri sendiri, dan menjadi lebih ringan ketika saya kembali kepada-Nya.
2. Shahihul Ibadah (ibadah yang benar)
Ibadah menjadi sumber kekuatan. Shalat bukan hanya kewajiban, tetapi ruang untuk kembali. Di dalamnya ada tilawah, dzikir, dan doa. Saya juga ingin lebih menjaga shalat sunnah, serta mendoakan anak dan suami dalam setiap kesempatan.
3. Matinul Khuluq (akhlak yang kokoh)
Akhlak menjadi cermin bagi anak. Saya belajar bahwa mendidik tidak cukup dengan kata-kata, tetapi melalui sikap yang terlihat setiap hari. Penting dalam menjaga sikap di rumah saat berinteraksi dengan suami atau anak. Apalagi di usia anak yang bisa menyampaikan teguran karena sikap kita sebagai orang tua kurang tepat.
4. Qowiyul Jism (fisik yang kuat)
Menjalani peran sebagai ibu membutuhkan energi. Menjaga kesehatan adalah bagian dari tanggung jawab, agar saya bisa menjalani peran dengan lebih optimal. Masih menjadi PR saya untuk rutin melaksanakan olahraga dan makan secara mindful (tidak berlebihan mengonsumsi atau minum yang manis atau kurang baik untuk kesehatan tubuh)
5. Mutsaqoful Fikr (wawasan yang luas)
Saya diingatkan untuk terus belajar. Karena menjadi ibu bukan hanya hadir, tetapi juga membimbing, dan itu membutuhkan ilmu. PR saya adalah meluangkan waktu untuk membaca setiap hari, karena semangat masih naik turun.
6. Mujahadatun Linafsihi (bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu)
Tidak semua hal berjalan sesuai keinginan. Di sinilah saya belajar menahan emosi, mengendalikan diri, dan tetap memilih respon yang lebih baik.
7. Harishun ‘ala Waqtihi (menjaga waktu)
Waktu sering terasa cepat berlalu. Saya mulai belajar mengelola waktu, agar tidak habis untuk hal yang kurang penting. Sepertinya perlu lebih keras pada diri sendiri dalam pengaturan waktu agar ketika ada waktu luang, tidak habis untuk scrolling.
8. Munazhzhamun fi Syu’unihi (teratur dalam urusan)
Kerapian dalam mengatur rumah, jadwal, dan aktivitas membantu saya menjalani hari dengan lebih ringan. Semoga bisa menerapkan journaling yang telah saya pelajari, agar lebih tertata menjalankan aktivitas.
9. Qodirun ‘alal Kasbi (mandiri/produktif)
Saya belajar untuk tetap produktif, sesuai dengan peran dan kemampuan, tanpa melupakan prioritas utama sebagai ibu.
10. Nafi’un Lighairihi (bermanfaat bagi orang lain)
Saya ingin kehadiran saya tidak hanya dirasakan oleh keluarga, tetapi juga memberi manfaat bagi orang di sekitar, meskipun dalam hal sederhana.
Proses yang Terus Berjalan
Menata rumah dan diri adalah proses panjang yang terus berjalan. Tidak selalu mudah, tetapi tetap harus dijalani. Ada hari yang ringan, ada juga yang penuh tantangan. Namun selama niat terus diperbaiki dan usaha tetap dijaga, semuanya tetap bernilai.
Melalui refleksi 10 tahun pernikahan ini, saya semakin memahami bahwa saya adalah hamba Allah, pendamping suami, bagian dari masyarakat, sekaligus pendidik bagi anak-anak. Menjalani segala peran dengan sadar, bismillah.
Penutup
Sering kali saya merasa belum cukup baik dalam menjalani semua peran ini. Namun dari refleksi pernikahan ini, saya belajar bahwa yang terpenting bukan menjadi sempurna, tetapi terus bertumbuh.
Pelan-pelan, saya ingin terus belajar menata rumah dan diri, agar rumah ini tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga tempat tumbuhnya ketenangan dan keberkahan.
“Menata rumah sejatinya adalah menata diri, dan dari situlah keberkahan menemukan jalannya.”





Posting Komentar
Posting Komentar