Madrasah Ramadan, Momentum Refleksi Diri

Hampir setengah perjalanan Ramadan telah kita lalui. Rasanya baru kemarin kita sibuk menyiapkan jadwal tarawih dan menu sahur, tetapi tahu-tahu bulannya sudah mau berganti fase saja. Semoga Allah masih memberi kita kesempatan untuk menikmati syahdunya Ramadan sampai hari terakhir nanti.

Jujur, Ramadan kali ini terasa berbeda bagi saya. Lebih syahdu, mungkin karena didukung cuaca yang hampir setiap hari mendung dan sejuk. Suasana ini sukses membuat suasana hati jadi lebih mellow. Bawaannya ingin diam, menarik diri dari keriuhan, dan banyak melakukan refleksi diri.

Ramadan adalah Madrasah, Kita Muridnya

Ada sebuah istilah yang sering kita dengar: Ramadan adalah Madrasah. Sudah tahu kan arti madrasah? Yap, betul, artinya sekolah.

Layaknya sekolah, Ramadan hadir untuk mendidik banyak sisi dalam diri kita. Bukan hanya soal spiritual (hubungan kita dengan Tuhan), tapi juga soal fisik yang dilatih menahan lapar, serta psikologis yang ditempa untuk lebih sabar. Ramadan memberi kita "kelonggaran" yang unik. Kalau melihat jam kerja saya yang biasanya pulang sore sampai rumah. Terkadang hampir magrib, baru pulang jika ada agenda tambahan. Sekarang jam 1 siang sudah bisa pulang dan melanjutkan aktivitas harian di rumah.

Seharusnya, jeda waktu ini jadi momen emas bagi kita untuk "mengobrol" dengan diri sendiri. Sudah sampai mana kita melangkah?

Saya jadi teringat tausyiah dari Ustadz H. Samsudin, Lc, pimpinan Pondok Pesantren Darut Taqwa Ponorogo. Beliau pernah menyampaikan begini: "Coba hitung, sudah berapa tahun kita ditempa di Madrasah Ramadan sejak kita baligh sampai hari ini?"

Mak deg! Kalimat itu langsung menyentuh hati saya. Kalau dihitung-hitung, sudah lebih dari 20 tahun saya diberi kesempatan oleh Allah untuk mengikuti "sekolah" Ramadan ini. Lalu, bagaimana peningkatan diri saya? Apakah kualitas ibadah saya semakin naik kelas, stagnan, atau malah menurun? Pertanyaan itu terus berputar di kepala, membuat Ramadan kali ini terasa benar-benar sebagai momen introspeksi yang dalam.

Pesan di Hari Sabtu: Sebuah Evaluasi yang Tak Terduga

Kebetulan, perasaan mellow dan reflektif ini makin kuat setelah kejadian hari Sabtu tadi. Di sekolah, kami mengadakan evaluasi bulanan rutin bersama Kepala Sekolah. Awalnya, forum berjalan formal seperti biasa program bulan Ramadan, dilanjutkan diskusi. Namun, di pertengahan forum, ustadzah Kepala Sekolah memberikan pesan yang membuat seisi ruangan mendadak hening.

Beliau menyampaikan bahwa keberhasilan kita hari ini, atau posisi kita yang mungkin dianggap sebagai "orang baik" oleh lingkungan, bukanlah semata-mata karena kehebatan atau kerja keras kita sendiri.

"Bisa jadi," kata beliau pelan, "Kebaikan yang kita nikmati saat ini, atau kemudahan hidup yang kita rasakan, adalah buah dari ikhtiar dan doa-doa panjang orang tua kita yang menembus langit tanpa kita ketahui."

Mendengar itu, pikiran saya langsung melayang ke sosok orang tua. Saya membayangkan, mungkin di saat saya sedang lalai, ada doa ibu yang sedang menjulang ke langit memintakan perlindungan untuk saya. Mungkin di saat saya hampir tergelincir dalam kesalahan, ada sedekah atau kebaikan ayah di masa lalu yang menjadi "perisai" sehingga saya tetap terjaga.

Menanam Kebaikan untuk Masa Depan Anak Cucu

Pesan dari Kepala Sekolah tadi menyadarkan saya pada satu hal penting: Kebaikan kita hari ini adalah sarana menanam kebaikan bagi anak keturunan kita di masa depan.

Kita sering khawatir, "Nanti kalau saya sudah tidak ada, anak-anak bagaimana ya? Siapa yang menjaga mereka?" Nah, di sinilah kuncinya. Ramadan sebagai madrasah seharusnya melatih kita untuk konsisten melakukan kebaikan secara istiqomah. Mengapa? Karena kesalehan orang tua adalah penjaga paling ampuh bagi anak-anaknya saat orang tua tersebut sudah tidak lagi berada di dekat mereka.

Dalam Al-Qur'an pun diceritakan bagaimana Allah menjaga harta anak yatim karena ayahnya adalah orang yang saleh. Tentunya, jika kita rajin introspeksi diri dan berusaha menjadi orang baik di Madrasah Ramadan ini, tujuannya bukan hanya untuk diri kita sendiri, tetapi juga agar kita menjadi "jalan kebaikan" bagi keluarga dan keturunan kita.

Menjadi Pelindung Lewat Doa dan Akhlak

Refleksi ini membawa saya pada sebuah kesimpulan bahwa hidup ini adalah estafet kebaikan. Kita menerima "tabungan" doa dari orang tua kita, maka tugas kita sekarang adalah mengisinya kembali untuk anak-anak kita.

Di sisa Ramadan ini, saya ingin lebih serius lagi memohon perlindungan untuk keluarga. Saya sadar, saya tidak bisa 24 jam menjaga mereka. Tetapi Allah bisa. Maka, cara terbaik menjaga mereka adalah dengan memperbaiki hubungan saya dengan Allah.

Setiap kali saya merasa lelah atau ingin menyerah dalam berbuat baik, saya akan ingat: “Ayo semangat, kebaikanmu ini mungkin yang akan menyelamatkan anakmu suatu hari nanti di tempat yang jauh dari jangkauanmu.”

Penutup: Naik Kelas di Madrasah Ramadan

Ramadan kali ini memang terasa berbeda. Langit mendung di luar jendela seolah mengajak saya untuk terus menunduk, melihat ke dalam hati yang mungkin selama ini terlalu banyak noda.

Pesan dari Ustadz Samsudin tentang "sudah berapa tahun kita sekolah" dan pesan Kepala Sekolah tentang "doa orang tua" adalah paket lengkap evaluasi diri saya tahun ini. Semoga saya bisa semakin "naik kelas".

Mari kita jadikan sisa hari di Madrasah Ramadan ini sebagai ajang untuk memperbanyak "investasi" kebaikan. Perlu meluangkan waktu untuk introspeksi diri, setiap hari. Karena setiap perbaikan kecil yang kita lakukan hari ini, bisa jadi adalah payung pelindung bagi anak-anak kita di masa depan yang terik. Kalau teman-teman, momen apa yang paling membuat kalian merasa 'mak deg' di Ramadan tahun ini?

April Fatmasari
Assalamualaikum. Saya seorang ibu rumah tangga yang memutuskan kembali mengajar sebagai guru komputer sekolah dasar. Memiliki ketertarikan dengan kepenulisan, pengasuhan, literasi anak, terutama read aloud. Belajar berbagi memaknai kehidupan dengan tulisan. Jika ingin menjalin kerja sama, dapat dihubungi melalui april.safa@gmail.com
Terbaru Lebih lama

Related Posts

Posting Komentar