Siapa yang setuju, kalau saya bilang bahwa guru adalah murid abadi? Kalimat ini mungkin terdengar klise bagi sebagian orang, namun bagi saya, ini adalah sebuah kebenaran mutlak yang saya rasakan setiap hari. Bahkan saat di rumah pun, ketika kita sudah melepas seragam, kita tetaplah sosok 'guru' bagi anak-anak kita sendiri. Menjalani profesi baru ini benar-benar membuka mata saya; saya menyadari bahwa niat baik dan semangat saja ternyata tidak cukup untuk mencetak generasi masa depan.
Ada banyak kesempatan belajar yang bisa kita dapatkan untuk terus bertumbuh, salah satunya dari agenda bimbingan teknis (BIMTEK) pada beberapa hari yang lalu. Saya merasa di-charge kembali dan diingatkan bahwa untuk mendidik dengan hati, kita pun harus terus-menerus memperbarui isi kepala. Jika kita berhenti belajar, maka saat itu juga kita berhenti menjadi guru yang relevan bagi zaman anak didik kita.
Agenda ini menjadi momen belajar bersama para guru dari berbagai sekolah lain yang bertempat di MisterQu Ponorogo. Alhamdulillah, kali ini tidak perlu jauh-jauh menimba ilmu ke luar kota, karena para narasumber hebatlah yang datang menghampiri kami.
Meskipun agendanya tergolong sangat padat, di mana pada hari Selasa saya masih harus mengajar dari pagi hingga siang, semangat saya tidak surut. Rasanya memang gedebag-gedebug, kaki melangkah cepat dari ruang kelas menuju lokasi acara, mencoba mengganti ritme dari pemberi materi menjadi penerima materi.
Acara ini menghadirkan para pakar yang luar biasa: Bapak
Mochammad Zaenuri dari Madiun, Ibu Ida Safiaturahma dari Lamongan, Ibu Choyatin
Nasucha dari Pasuruan, dan tidak ketinggalan hadirnya Pak Ruslan Thohirin.
Selama acara, otak rasanya "panas" bukan karena beban, tapi karena
proses mengosongkan gelas agar bisa menampung ilmu baru.
KBC: Ruh di Balik Setiap Kurikulum
Materi pertama membuka mata saya bahwa Kurikulum Berbasis
Cinta (KBC) bukanlah sebuah beban administratif baru, melainkan sebuah ruh.
Penting untuk kita pahami bahwa KBC tidak hadir untuk menggantikan K13 atau
Kurikulum Merdeka. Justru, KBC adalah nyawa yang menghidupkan keduanya. Tanpa
cinta, kurikulum secanggih apa pun hanya akan menjadi tumpukan kertas tanpa
makna. Kami diingatkan bahwa tugas guru bukan sekadar mengajar (transfer
informasi), tetapi mendidik moral dan karakter.
Ada 5 pilar utama KBC yang menjadi fondasi kami:
- Kepemimpinan
Welas Asih: Memimpin kelas dan madrasah dengan empati.
- Budaya
Iklim Madrasah Inklusif: Merangkul semua perbedaan anak didik tanpa
kecuali.
- Pembelajaran
Mendalam (Deep Learning): Menggali makna, bukan sekadar mengejar hafalan
untuk nilai.
- Manajemen
Humanis: Menghargai martabat setiap manusia di lingkungan sekolah.
- Kolaborasi
Masyarakat: Membangun ekosistem bersama wali murid demi kepentingan
terbaik anak.
Salah satu bagian yang sangat menantang bagi saya adalah
pilar Cinta Ilmu. Di sini, kami belajar memahami kebenaran melalui tiga jalur:
Bayani (Al-Qur'an dan Sunnah), Burhani (rasio dan ilmu umum), serta Irfani
(kepekaan nurani). Untuk mencapai level cinta ilmu yang mendalam, kita diajak
mengubah cara bertanya. Kita tidak boleh puas dengan pertanyaan "apa,
siapa, atau kapan".
Sebaiknya kita naik kelas ke pertanyaan "mengapa dan
bagaimana". Mengapa sebuah peristiwa terjadi? Bagaimana fenomena itu
bekerja? Pertanyaan mendalam inilah yang akan menuntun siswa untuk memahami
hakikat ilmu, bukan sekadar menghafal jawaban untuk ujian.
Rabu yang Berwarna: Nasionalisme dan Ekoteologi
Hari kedua di MisterQu berubah menjadi panggung kebudayaan
yang meriah. Untuk mengimplementasikan Cinta Tanah Air, kami sepakat mengenakan
pakaian adat. Saya dan rekan guru perempuan tampil kompak menggunakan gamis dan
jilbab polos, dipermanis dengan selendang kain songket dan hiasan kepala yang
sengaja kami sewa demi totalitas. Sementara itu, para guru laki-laki tampil
gagah dengan Baju Penadon khas Ponorogo, lengkap dengan nuansa kearifan lokal
yang kental.
Tak hanya soal estetika, kami juga belajar tentang
Ekoteologi melalui aksi nyata Cinta Lingkungan. Kami membawa tumblr sendiri
untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Momen paling hangat terjadi
saat sesi Tukar Kado. Melalui kado-kado putih yang kami pertukarkan tanpa
melihat nilai harganya, kami belajar tentang Cinta Diri dan Sesama. Ini adalah
perwujudan prinsip No Curiga, No Prasangka yang mempererat persaudaraan kami
sebagai pejuang pendidikan.
Memahami Emosi dan Tantangan Disiplin Positif
Di sesi Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) oleh Pak Ruslan
Thohirin, saya belajar bahwa emosi anak (dan guru) memiliki nama yang spesifik.
Kita harus mampu menyadari diri, mengelola diri, hingga terampil berelasi. Kami
diajarkan teknik I-Message dalam disiplin positif untuk menciptakan koneksi
(connection) agar anak merasa berarti (significance).
Namun, secara pribadi, saya melakukan refleksi mendalam di
sesi ini. Di atas kertas, konsep disiplin positif tanpa hukuman fisik memang
terlihat indah. Namun, jujur saja, kenyataan di lapangan sering kali tidak
semudah membalik telapak tangan. Menerapkan disiplin positif tanpa
"konsekuensi yang berarti" adalah tantangan besar bagi guru. Kita
sering kali berhadapan dengan situasi di mana pendekatan yang sama tidak bisa
diterapkan pada semua anak. Ada anak yang cukup diingatkan dengan tatapan mata,
namun ada pula yang butuh pendekatan jauh lebih intensif.
Mendidik dengan cinta bukan berarti membiarkan tanpa batas.
KBC mengajarkan kita untuk mencari jalan tengah antara ketegasan dan
kelembutan. Ini adalah PR besar bagi saya: bagaimana caranya tetap konsisten
pada disiplin tanpa mematahkan semangat atau melukai hati anak didik.
Happy Tanpa Bullying
Materi yang sangat krusial adalah tentang Happy Tanpa
Bullying. Saya cukup terkejut saat membedah 20 bibit bullying yang sering kita
anggap remeh, seperti name calling (memanggil dengan nama ejekan), mocking
(mengejek), roasting, hingga gosip. Hal-hal yang sering dianggap
"bercandaan" di sekolah ternyata adalah akar dari luka batin yang
mendalam.
Bullying kini bahkan sudah bergeser polanya; bukan hanya antar siswa, tapi ada kasus siswa mem-bully guru. Faktor penyebabnya kompleks, mulai dari senioritas hingga pengaruh media sosial yang tanpa filter.
Kondisi
ini semakin dipersulit saat kita berhadapan dengan orang tua yang memiliki
power atau pengaruh tertentu, yang sering kali tidak terima jika anaknya
diingatkan walau jelas-jelas bersalah. Di sinilah Mindset KBC diuji; kita harus
mampu berkomunikasi secara kolaboratif, memandang masalah sebagai satu kesatuan
utuh, dan tidak terjebak pada sikap saling menyalahkan.
Penutup: Membawa Pulang Bekal Hati
Diskusi seru selama dua hari di MisterQu memberikan saya
banyak ide ice breaking kreatif bertema Panca Cinta. Namun lebih dari itu, saya
membawa pulang kesadaran baru. Menjadi guru bukan tentang menjadi yang paling
pintar di depan kelas, tapi tentang menjadi yang lebih peduli.
Perjalanan singkat ini menyadarkan saya bahwa kelas bukan
hanya tempat mengisi otak dengan rumus, tapi tempat merawat hati dengan tulus.
Meskipun tantangan di lapangan—seperti sulitnya menerapkan disiplin positif
atau menghadapi ego orang tua—akan selalu ada, setidaknya kini saya punya
kompas bernama KBC.
Mari kita terus menjadi guru yang pembelajar. Karena hanya dengan terus memperbarui isi kepala, kita bisa memberikan cinta yang terbaik bagi anak didik kita di sekolah, maupun bagi cahaya mata kita di rumah. Kita mungkin tidak bisa mengubah dunia dalam semalam, tapi kita bisa mulai dengan memberikan satu senyuman tulus dan satu pertanyaan "mengapa" yang mendalam di hari berikutnya.
.png)




Posting Komentar
Posting Komentar