Meregulasi Emosi Diri

Masih belum selesai baca buku Heal Yourself karya Novie Oktaviane Mufti. Padahal sudah bertekad banget, tapi kurang kuat meluangkan waktu untuk melahap isi bukunya. Tertarik banget untuk share sedikit insight dari salah satu sub bab yang judulnya Tunggu, Aku Butuh Waktu!. Supaya jadi pengingat karena bisa nyambung dengan kebutuhanku dan anak.

Dari judulnya saja sedikit ketebak tentang perlu jeda waktu untuk mengelola emosi alias regulasi emosi.  Semoga dimudahkan Allah dalam prakteknya karena seperti yang kita kita tahu bahwa hal hal pertama dalam regulasi emosi adalah mengenalinya dulu dan mengidentifikasi jenis emosi yang dirasakan beserta sebabnya. Kalau untuk anak mengajak menamai emosinya, kalo kreatif bisa bikin DIY ekspresi atau emosi ya.

Ragam emosi. Sumber: es.lovepik.com

Kemudian kenali juga emosi yang dirasakan orang lain serta perhatikan sikap atau gesturnya. Selanjutnya kita perlu komunikasikan emosi yang dirasakan pada orang lain. Misal seperti, "Aku lagi marah, boleh tinggalkan aku sendiri?"

Selain itu, supaya mudah meregulasi emosi sendiri, sangatlah penting untuk peduli dan menjaga pola hidup. Perhatikan kembali pola makan, pola tidur, kegiatan fisik dan sebagainya. 

Dan melatih kesadaran diri dengan mindfulness alias being present in the moment atau hadir utuh. Menjaga pikiran positif dan peka dengan kondisi diri. Peka di sini juga menarik lagi bahasannya ada di sub bab selanjutnya yang berjudul Mohon Maaf, Ini Bukan Urusan Saya. 

Ada juga istilah time out yang disebutkan di buku ini dengan berhenti sejenak dan membersihkan diri. Misal sebelum pulang kerja, bisa merapikan diri dulu secukupnya. Sesampai rumah bisa melanjutkan merawat diri dengan bersih diri mandi mandi supaya lebih segar. Secukupnya waktu, tidak berlama-lama. 

Kalo sebagai ibu sudah bisa meregulasi emosi diri, tentu anak akan berkaca untuk meniru. Semoga saat diri bisa berdamai dengan emosi, anak juga dapat lebih stabil memahami emosinya. 

Comments

Popular posts