Berkawan dengan Pemaafan, Tuntaskan Dendam

Kurentangkan tangan untuk menyambut lelakiku. Lelaki yang akan menjadi penerus generasi nantinya. Dia sedang kecewa karena saudaranya hanya mampir sesaat di depan rumah. Kupeluk dan menanyakan tentang perasaannya siang tadi. Supaya dia tahu ragam perasaan yang bergantian muncul dalam dirinya. Berharap dia (dan aku) belajar untuk meregulasi emosi dengan baik.

Namun yang selalu kuingat, perasaan anak begitu tulus. Fitrahnya selalu positif, menerima kebaikan dan kebenaran. Tak heran jika sedetik yang lalu menangis karena kecewa, sekejap kemudian bisa langsung tersenyum, memaafkan dan lupa dengan kesedihan. Sebagai orang dewasa, seharusnya belajar banyak dari  anak-anak, terutama dalam hal pemaafaan.

Bagaimana denganku? Di satu perjalanan, aku membuka pintu pemaafan dengan lebar. Mengikhlaskan sikap orang lain yang menyakiti. Tapi dalam perjalanan lain, aku pernah mengenggam erat kekecewaan dan kemarahan. Ibarat berjalan dengan belati yang menancap dalam dada. Dibiarkan darah terus mengucur selama perjalanan. Apakah itu menyenangkan?

Bukankah lebih baik melepaskan belati, membersihkan luka, menghentikan kucuran darah dan mengobati lubang tusukan? Permisalan itu seperti 4 tahapan pemaafan (uncovering, dessicion, work, deepening) yang dijelaskan oleh Kang Asep Haerul Gani dalam workshop terapi pemaafaan atau Forgiveness Therapy pada bulan Ramadhan tahun 2019 di Surabaya.


Ada kisah pemaafan yang luar biasa dari seorang sahabat Rasulullah Nabi Muhammad. Abu Bakar dengan akhlak yang mulia. Dalam buku Pendidikan Anak dalam Islam tertulis kerabat Abu Bakar bernama Misthah yang hidupnya ditanggung oleh beliau. Saat terjadi peristiwa dusta (Haditsul Ifki), Misthah tidak mampu menahan diri hingga ikut menyebarkan berita palsu tentang Aisyah yang dibesarkan oleh kaum munafik. Misthah lupa dengan hak sesama muslim, hak keluarga, saling menjaga kehormatan serta lupa dengan kebaikan Abu Bakar selama ini.

Karena itu, Abu Bakar bersumpah untuk memutus hubungan kekeluargaan dan nafkah yang selama ini diberikan pada Misthah. Namun, turunlah firman Allah, "Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (TQS. An-Nur ayat 22).

MasyaAllah, ayat itu langsung membuat Abu Bakar berubah pikiran. Beliau mau memaafkan Misthah dan berlapang dada. Abu Bakar mengatakan, "Aku ingin Allah mengampuniku."

Tapi tingkatan akhlak Abu Bakar seorang sahabat Rasulullah yang langsung menerima arahan dari nabi penutup pasti berbeda denganku seorang manusia biasa. Teh Febrianti Almeera dalam kelas healing menjelaskan bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini adalah takdir. Jika ada kebaikan, itu datangnya dari Allah. Jika terjadi kejadian buruk, bisa jadi itu karena diri sendiri untuk introspeksi. Sehingga saat terjadi sesuatu yang menyebabkan perasaan tidak nyaman karena seseorang, perlu mengubah pola pikir bahwa diri ini bukan korban. Misal ada orang berteriak memarahi, anggaplah orang tersebut sedang melatih vokal suara tinggi. Dan sejenisnya. Sehingga menjadikan emosi itu netral dan mudah melakukan pemaafan.

Jika dirasa masih ada perasaan dendam yang belum tuntas, bisa me-release dengan menulis. Seorang psikolog bernama Nurindah Fitria menyarankan untuk melakukan terapi jiwa dengan membuat seperti jurnal syukur. Menuliskan secara detail tiap momen yang membuat tidak nyaman dapat membantu mengenali sesuatu yang dirasakan dan hal yang sebaiknya dilakukan. Bisa juga menggunakan poin-poin sebagai berikut:
1. Apa yang dirasa saat itu
2. Apa yang membuat merasa begitu
3. Situasi apa yang memperburuk rasa itu
4. Situasi apa yang memperbaiki rasa itu
5. Hal apa yang patut disyukuri saat ini

Satu hal yang paling penting dalam poin pemaafan adalah melibatkan Allah, memohon kemudahan untuk pembersihan jiwa. Allah saja Maha Pengampun, mengapa sebagai manusia susah memaafkan. Semoga ramadhan ini menjadikan pribadi pemaaf agar menjadi kembali ke fitrah manusia yang benar.


#inspirasiramadan
#dirumahaja
#flpsurabaya
#BERSEMADI_HARIKE-9

Post a Comment

0 Comments