Keajaiban Read Aloud dalam Meningkatkan Kompetensi Emosi Anak

Ada yang tahu atau pernah dengar, apa itu kompetensi emosi? Apa sudah tahu juga, kalau hal itu berkaitan dengan read aloud? Alhamdulillah tercerahkan dengan ikut kulwap bareng Mbak Saraswati. Tema yang dibahas adalah Meningkatkan Kompetensi Emosi Anak dengan Read Aloud di hari Rabu tanggal 17 Februari 2020 pukul 09.00. Ternyata, kompetensi emosi adalah kecakapan yang mencakup 3 aspek yaitu kemampuan memahami pengetahuan emosi, mengekpresikan emosi secara tepat dan meregulasi emosi. Lalu apa kaitannya antara read aloud dan kompetensi emosi? Bagaimana keajaiban read aloud dapat meningkatkan kompetensi emosi anak? Mari kita bahas poin-poin tersebut, yuk.

Aspek Kompetensi Emosi

Aspek pertama kompetensi emosi adalah tentang pengetahuan pemahaman emosi, antara lain: mampu mengenali emosi diri sendiri maupun orang lain berdasarkan petunjuk ekspresi wajah, suara, dan gestur tubuh. Selain itu, mampu memberi nama emosi secara verbal, memahami kondisi atau alasan yang menyebabkan munculnya suatu emosi serta konsekuensi yang dapat timbul dari suatu emosi. Aspek kedua adalah ekspresi emosi. Ekspresi seseorang saat menunjukkan emosi yang dirasakan dengan tepat. Mampu menunjukkan emosi yang dirasakan dengan ekspresi wajah, suara, dan gesture tubuh secara jelas serta diterima secara sosial. 
Aspek terakhir dari kompetensi emosi adalah tentang regulasi. Mampu mengelola/mengontrol reaksi emosi yang muncul akibat suatu kondisi, serta menunjukkan perhatian atau tindakan yang dibutuhkan orang lain ketika merasakan emosi tertentu.
Baca juga tentang regulasi emosi.

Pentingnya Kompetensi Emosi 

Seberapa penting sih, kompetensi emosi itu? Ternyata hal itu mempunyai peran penting dalam pengembangan kompetensi sosial dan pencapaian akademiknya. Seperti apa penjelasannya? Kita kupas lagi, yuk.
  1. Mengembangkan kompetensi sosial. Kompetensi untuk membangun relasi dan interaksi positif dengan orang lain. Bisa juga meningkatkan kemampuan penyesuaian diri serta meningkatkan munculnya perilaku prososial dan kemampuan menyelesaikan konflik dengan diskusi.
  2. Membantu pencapaian prestasi akademik. Anak akan mampu mengontrol kecemasannya secara efektif, memfokuskan perhatiannya pada pelajaran, dan mencari bantuan kepada guru, teman, atau orang yang lebih berkompeten untuk mengatasi kesulitan akademisnya.

Jika kompetensi emosi anak rendah bagaimana? Tentu banyak memunculkan perilaku agresif saat dihadapkan situasi mengecewakan. Hal lain yang dikhawatirkan ketika dewasa adalah dapat menghambat kesukesannya dan bisa sangat beresiko mengalami gangguan kesehatan mental. Naudzubillah. Mengapa bisa begitu? Karena sejak kecil kurang mampu identifikasi penyebab emosi yang dialami. Saat mengalami stress dan tidak dapat meregulasi emosi dengan baik, tentu sikap agresifnya yang muncul.

Faktor yang Berpengaruh Pada Kompetensi Emosi 

Ada dua faktor yang mempengaruhi kompetensi emosi. Faktor pertama dari internal yaitu perkembangan intelektual dan fisik (kesehatan, jenis kelamin). Menurut Hurlock, 2010; Santrock 2002,  perkembangan intelektual menghasilkan kemampuan-kemampuan untuk memahami makna yang sebelumnya tidak dimengerti. Mengingat dan memperkirakan peristiwa yang akan terjadi. Memperhatikan satu stimulus dalam jangka waktu lebih lama, dan memutuskan ketegangan emosi pada satu objek. Dari kemampuan-kemampuan itu, membuat seseorang mampu memahami kondisi emosi dan penyebabnya, serta mampu menggunakan potensi kognisinya untuk menggunakan berbagai strategi regulasi emosi. Menurut penelitian lain, anak perempuan memiliki pemahaman emosi yang lebih baik daripada anak laki-laki.

Faktor kedua dari eksternal yaitu lingkungan, pendidik, terutama orang tua (attachment, sosialisasi emosi pada anak). Attachment ini modal awal untuk membentuk kompetensi emosi anak. Apa itu attachment (kelekatan)? Menurut Santrock (2007), kelekatan adalah ikatan emosional yang erat antara dua orang. Kelekatan ini mengacu pada suatu relasi antara dua orang yang memiliki perasaan yang kuat satu sama lain dan melakukan banyak hal bersama untuk melanjutkan relasi itu. Anak yang mendapatkan attachment cukup, akan merasa dirinya aman (secure). Attachment ini sangat penting di dua tahun pertama kehidupan anak. Salah satunya dengan menyusui. Selain itu, bonding yang kuat juga dapat menguatkan dan membantuk attachment.
Sosialisasi emosi dari ibu atau orang tua kepada anak merupakan faktor utama juga dalam mempengaruhi dan meningkatkan kompetensi emosi anak. Bentuk sosialisasi emosi adalah pemodelan emosi, reaksi terhadap emosi anak, dan pengajaran tentang emosi. Anak juga akan mengimitasi dan memodel apa yang ibu lakukan.

Kaitan Read Aloud dengan Kompetensi Emosi Anak

Penelitian Tsai (2008), yang berjudul Guiding Taiwanese Kindergateners' Emotional Understanding And Emotion Regulation: The Effects Of Children’s Picture Books, menggunakan media buku bergambar untuk mengajarkan pemahaman dan regulasi emosi. Hasil penelitian tersebut menyebutkan bahwa penggunaan buku bergambar dapat meningkatkan pengetahuan tentang emosi dan kemampuan regulasi emosi anak.
Read aloud menjadi salah satu sarana untuk meningkatkan kompetensi emosi anak dengan pengajaran emosi. Seperti yang kita tahu bahwa salah satu keajaiban read aloud adalah meningkatkan bonding anak dan orang tua. Saat bonding kuat, maka attachment juga meningkat.

Read Aloud dapat Meningkatkan Bonding

Bonding adalah salah satu hal yang membentuk attachment (kelekatan). Attachment, tadi sudah dibahas yaa. Menurut Jeff dan Cindi, bonding merupakan kebutuhan esensial bagi bayi. Dengan bonding, bayi belajar mengembangkan rasa percaya diri keterampilan dalam hubungan sosial. Bonding dapat dapat diwujudkan dalam bentuk kontak dini antara ibu dan bayi sesaat setelah bayi dilahirkan, sentuhan, kontak mata, suara, kehangatan tubuh, aroma, dst. Kok bisa, read aloud dapat meningkatkan bonding? Karena read aloud (membacakan buku secara nyaring) mengharuskan orang tua fokus dan hadir penuh dalam membaca. Selain itu, anak menjadi lebih dekat dan kenal dengan suara atau ekpresi wajah orang tua. Dengan read aloud, anak mempunyai pengalaman mendengarkan bacaan dan aktivitas diskusi yang positif serta menyenangkan.

Mengajarkan Kompetensi Emosi Anak dengan Read Aloud

Bagaimana pengajaran kompetensi emosi pada anak ketika melakukan aktivitas read aloud? Ada 2 cara yang bisa dilakukan nih, antara lain memilihkan buku yang tepat bertemakan emosi dan memahami tahapan read aloud. Dalam memilihkan buku, bisa disesuaikan dengan tujuan read aloud dan usianya. Sebagai pertimbangan dalam memilih buku yang mengembangkan kompetensi emosi adalah perasaan yang dialami karakter merupakan alamiah, ceritanya mengeksplorasi perasaan dan jalan cerita memberi solusi untuk menangani perasaan.

Teknik Membacakan buku

Ibu-ibu kalau membacakan buku anak, tahu tekniknya? Atau tinggal baca aja, ribet amat. Hihi. Mbak Saraswati menyampaikan, bahwa ada 3 teknik membaca yang biasanya dilakukan oleh orang tua. Apa saja tekniknya?
  • Membaca buku bersama: Pembacaan buku oleh orang dewasa kepada satu atau sekelompok kecil anak tanpa mengharuskan adanya interaksi lebih dalam.
  • Membaca bersama interaktif: Pembacaan buku yang menggunakan berbagai teknik untuk mengajak anak mengenal lebih lanjut tentang bacaan yang dibacanya.
  • Membaca Dialogis: Aktivitas membaca bersama, dimana orang dewasa dan anak dapat bertukar peran, dengan demikian anak dapat belajar bercerita dengan ditemani orang dewasa yang berfungsi sebagai pendengar dan pemberi pertanyaan secara aktif.
Baca juga sesi read aloud bersama anak.

Tahapan Read Aloud

Read Aloud dengan membaca dialogis ini yang dapat memfasilitasi anak untuk dapat mengembangkan kompetensi emosinya. Itulah mengapa di dalam aktivitas Read Aloud, ada beberapa tahapan yang perlu diperhatikan oleh orang tua atau orang yang akan membacakan buku.

Tahap Persiapan

  1. Merencanakan tujuan membaca.
  2. Mengetahui tahapan membaca anak-anak.
  3. Pilih buku yang sesuai.
  4. Lakukan pra-membaca dan baca ulang agar kita tahu jalan cerita, mengantisipasi pertanyaan anak yang muncul.
  5. Menyiapkan pertanyaan-pertanyaan sebagai bahan diskusi.
  6. Melatih diri agar saat read aloud intonasi suara menarik dan menggunakan gerak tubuh

Tahap Awal Sebelum Read Aloud

  1. Mulailah dengan percakapan pembuka.
  2. Tunjukkan sampul buku atau bacaan yang akan dibacakan dan menyebutkan gambaran singkat cerita/melatih anak melakukan prediksi.
  3. Sebut judul, pengarang dan ilustratornya.
  4. Gali pengetahuan latar atau pengetahuan umum anak-anak.
  5. Mulai menyusuri ilustrasi di dalam buku atau bahan bacaan.
  6. Buat membaca semenarik mungkin

Saat Read Aloud 

  1. Tetap tanggap dan berkomunikasi dengan anak-anak.
  2. Bantu anak-anak untuk mendengar dan merasakan adanya cerita yang mengalir.
  3. Bacakan dengan suara yang dapat didengar anak-anak dan tidak terlalu cepat.
  4. Jaga interaksi dengan anak-anak.
  5. Sebagai sarana untuk berbagi informasi.
  6. MintaMinta anak bertanya.
  7. Jadikan bertanya sebagai ajang diskusi.
  8. Ajak anak-anak mengungkapkan secara lisan apa yang didengar atau dibacakan dan apa yang dipikirkan.

Setelah Read Aloud

  1. Minta anak mengajukan pertanyaan.
  2. Ajukan pertanyaan seandainya anak tidak bertanya.
  3. Minta anak-anak menceritakan kembali dengan kata-katanya sendiri.
  4. Letakkan buku atau materi bacaan ditempat yang mudah dijangkau anak-anak.

Salah satu penekanan dalam pengajaran emosi anak, ada dalam interaksi dan diskusi selama read aloud berlangsung. Karena tadi membahas yang berkaitan dengan kompetensi emosi, maka buku yang dibaca juga bertemakan emosi. Contoh pertanyaan atau hal yang bisa didiskusikan misalnya, siapa nama tokohnya? Mengapa dia menangis/marah/sedih? Apa yang dia lakukan saat sedih/marah/sedih? Bisa juga dikaitkan dengan pengalaman anak (kalau mengalami situasi seperti di buku tadi, apa yang kakak lakukan? bagaimana cara kita menenangkan teman yang bersedih?).

MasyaAllah, dari aktivitas sederhana read aloud dapat meningkatkan kompetensi emosi anak. Tentunya sambil memperhatikan tahapan read aloud. Alhamdulillah banyak banget catatan kulwap yang diselenggarkan Hexagon City Virtual Conference. Kalau ibu-ibu ingin merasakan keajaiban read aloud juga? Sudah lakukan read aloud bertemakan emosi? Atau sudah punya stok buku tentang emosi, belum? Yuk, luangkan waktu minimal 5 menit saja dan rasakan keajaibannya dengan kuasa Allah tentunya.


Post a Comment

12 Comments

  1. wah ini ilmu baru banget. makasih banyak ya mba sharingnya. saya mau coba jadinya.

    ReplyDelete
  2. Sharingnya kereen. Dulu saya sering membacakan cerita ke anak-anak, ternyata ini sekarang namanya read aloud ya. Memang jadi ada bonding dan komunikasi yang asyik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. MasyaAllah keren Mbak. Saya baru tahu istilah ini juga di usia anak setahunan

      Delete
  3. Ini menjadi salah satu sumber referensi saya dalam mendidik anak saya.

    Terima kasih, bermanfaat sekali kak..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebetulnya masih banyak referensi lain yang pastinya lebih lengkap.

      Alhamdulillah, semoga bermanfaat, Kak

      Delete
  4. MasyaAllah. Untuk mempersiapkan tumbuh kembang anak memang harus dicoba segala malam cara, salah satunya read aloud ini ya mbak.

    ReplyDelete
  5. Aku saved ya mbak, kapan hari mau ikut kulwap ini tapi keblablasan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. boleh banget Mbak, silakan. Alhamdulillah, kebagian rezeki nyimak kulwapnya nih

      Delete
  6. Read aloud sebenernya mudah ya mbak, tapi butuh konsistensi itu, hrs menyediakan waktu khusus, semangat kitaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaa, bener banget Mbak. Konsistennya itu yang memberi dampak secara tidak langsung tapi insyaAllah nyata

      Delete
  7. Read Aloud memang sangat bermanfaat bagi anak. Orang tua juga perlu memainkan imaginasi saat read aloud. Terima kasih mom step nya sangat jelas disinj.

    ReplyDelete